Rabu, 13 Desember 2017

Makalah Manajemen Kepemimpinan (Teori Kepemimpinan)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang TEORI-TEORI DALAM STUDI KEPEMIMPINAN meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak ADNAN A IBRAHIM,S.PD,M.PD Dosen mata kuliah Organisasi Pendidikan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai TEORI-TEORI DALAM STUDI KEPEMIMPINAN Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.




Daftar Isi
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 1
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 2
BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................................. 3
A.   Latar Belakang................................................................................................... 3
B.   Rumusan Masalah............................................................................................ 3
C.   Tujuan.................................................................................................................. 3
BAB II : PEMBAHASAN................................................................................................ 4
A.   Devinisi Kepemimpinan................................................................................... 4
B.   Teori Kepemimpinan......................................................................................... 6
C.   Teori Lahirnya Seorang Pemimpin................................................................. 7
D.   Pendekatan Studi Kepemimpinan............................................................... 22
E.   Sifat Sifat Kepemimpinan.............................................................................. 24
F.    Sifat Yang Membuat Pimpinan Disukai...................................................... 25
G.   Karakteristik Dan Peran Kepemimpinan..................................................... 27
BAB III : PENUTUP...................................................................................................... 31
A.   Kesimpulan....................................................................................................... 31
B.   Saran................................................................................................................. 32
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 33




BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajamen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. dengan amat berat seolah-olah kepemimpinan dipaksa menghadapi berbagai macam faktor seperti : struktur atau tatanan, koalisi, kekuasaan, dan kondisi lingkungan organisasi. sebaliknya, kepemimpinan rasanya dapat dengan muda menjadi satu alat penyelesaian yang luar biasa terhadap persoaalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi.
Dalam hal ini kepemimpinan dapat berperan di dalam melindungi beberapa isi penganturan organisasi yang tidak tepat, seperti : distribusi kekuasan menjadi penghalang tindakan yang efektif, kekurangan berbagai macam sumber, prosedur yang dianggap buruk (archaic procedur), dan sebagainya yaitu problem-problem organisasi yang lebih bersifat mendasar.
Demikianlah esensi salah satu pendapat yang diungkapkan oleh Richard H. Hall melalui bukunya yang berjudul Organizations: structure and process,  mengapa perlu dan banyak terdapat studi tentang kepemimpinan pada masa-masa lalu. Suatu kenyataanya bahwa di dalam situasi tertentu kepemimpinan dirasakan penting, bahkan amat penting (critical) .

B.   Rumusan Masalah
1)    Jelaskan Devinisi Kepemimpinan?
2)    Apa Saja Teori-Teori Kepemimpinan?
3)    Apa Saja Teori Lahirnya Seorang Pemimpin?
4)    Jelaskan Pendekatan Studi Kepemimpinan?
5)    Apa Dan Bagaimana Sifat – Sifat Kepemimpinan?
6)    Bagaimana Sifat Pemimpin Yang Disukai?
7)    Bagaimana Karakteristik Pemimpin?

C.   Tujuan
1)    Untuk Menjelaskan Devinisi Kepemimpinan
2)    Untuk Mengetahui Teori Teori Kepemimpinan
3)    Untuk Mengetahui Teori Lahirnya Seorang Pemimpin
4)    Untuk Mengetahui Studi kepemimpinan
5)    Untuk Mengetahui Sifat-Sifat Kepemimpinan
6)    Untuk Mengetahui Sifat Pemimpin Yang Disukai
7)    Untuk Mengetahui Karakteristik Pemimpin
BAB II
PEMBAHASAN
A.   Defenisi Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi banyak orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan (Dubrin, 2009: 4). kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama. Pengertian diatas lebih jelas diketengahkan oleh Ngalim Purwarto  bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan  dan sifat-sifat kepribadian, di dalamya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan  yang dipimpinya agar meraka mau serta dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela penuh semangat dan kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa (Purwanto, 1992: 26).

Kepemimpinan merupakan sebuah kemampuan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dalam menggerakan seluru sumber daya organisasi terutama sumber daya manusianya untuk melakukan apa yang diharapkan. Kemampuan inilah yang akan menentukan bahwa seorang pemimpin tersebut baik tidaknya (Anwar US, 2011: 16). kepemimpinan  merupakan inti dari manajemen. Apabila dianalisis lebih mendalam lagi akan tergambar bahwa manusia merupakan faktor penentu sukses atau tidaknya suatu kepemimpinan dalam sebua organisasi. Karena itu sumber daya manusia ini tidak bisa diabaikan dan tidak bisa diberlakukan sama dengan sumber daya non-manusia.

kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang, agar mau mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Sebagian ahli menganggap bahwa inti manajemen adalah kepemimpinan (Komaruddin, 1994: 475). Proses kepemimpinan dapat terlaksana jika terjadi interaksi dua atau tiga orang atau lebih, maka disini terdapat faktor perilaku pengaruh dan yang mempengaruhi dan siapa yang akan bisa menjadi pemimpin. karena memimpin merupakan suatu tingkatan dalam manajemen yang melakukan fungsih-fungsih manajemen, pembentukan, perencanaan, pengaturan, pendorong, sistem hubungan dan pengendalian, kehendak untuk memimpin dan memberikan pengarahan.

Manusia, disamping mahluk individu juga sebagai mahluk sosia. Sifat alami manusia antara lain saling membutuhkan, gotong royong, kebersamaan, bermusyawarah, saling ketergantungan antara satu  dengan lainnya. Implementasi sifat-sifat tersebut, maka diperlukan hubungan atau interaksi baik disuatu kelompok masyarakat atau organisasi. Kemajuan suatu organisasi diperlukan seorang sosok pemimpin yang baik diantara mereka, karena memimpin merupakan komponen yang mengikat satu kesatuan dalam kelompok.

Kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Apabilah dianalisis lebih mendalam lagi akan tergambar bahwa manusia merupakan inti dari kepemimpinan , paling tidak untuk masa sekarang. Sumber daya manusia merupakan faktor penentu sukses atau tidaknya suatu kepemimpinan  dalam sebuah organisasi. Karena itu sumber daya manusia ini tidak bisa diabaikan dan tidak bisa diberlakukan sama dengan sumber daya non-manusia. Menurut Suharsimi Arikunto, dimensi manusia ini merupakan unsur yang harus dipertimbangkan karena dimensi manusia memiliki beberapa kunci elemen yaitu hubungan keahlian, kreativitas, fleksibilitas dan orientasi kedepan (Arikunto, 1993: 12). lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa terdapat dimensi lain selain dimensi manusi yaitu dimensi tugas dan lingkungan. Jadi dimensi manusia, tugas dan lingkungan. Jadi dimensi manusia, tugas dan lingkungan merupakan penyebab dinamika kepemimpinan yang digunakan seseorang.

Syaiful Sagala (2006: 145) mengatakan kepemimpinan adalah suatu pokok dari keinginan manusia yang besar untuk menggerakan potensi organisasi, kepemimpinan  juga sala satu penjelas yang paling populer Wahab (2008: 83) mengemukakan mengenai pelaksanaan kepemimpinan, bahwa kepemimpinan berlangsung di dalam sebuah organisasi yang dalam arti statis merupaksn wadah  dalam bentuk suatu struktur organisasi. di dalam struktur itu terdapat unit-unit kerja  sebagai hasil pekerjaan dengan pengelompokan pekerjaan (tugas-tugas) sejenis atau serumpun ke dalam satu unit kerja.

Dalam Al-Qur’an kata pemimpin identik dengan kata khalifah, sebagaimana tercantum  dalam surat Al-Baqarah, ayat 30 dan surat Al-Shad. kata khulafa  yang pada mulanya berarti dibelakang, dari sini kata khalifah sering diartikan sebagai pengganti (karena yang menggantikan selalu berada dibelakang atau sesudah yang digantikan), tidak dapat disangkal oleh parah musafir bahwa bentuk kata tersebut (khalifah, khalaif,khulafa)  masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang sedikit atau banyak berbeda dengan yang lain. Dalam hali ini, M Quraisy Shibab (1999: 56) menafsirkan bahwa kata khalifah digunakan oleh Al-Qur’an untuk siapa yang diberikan kekuasan mengelolah wilayah, baik luas maupun terbatas.
B.    Teori-Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan yaitu teori genetis dimana menjelaskan bahwa seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan untuk bisa menjadi pemimpin; dia telah memiliki bakat dan mempunyai pembawaan untuk bisa menjadi pemimpin. Menurut teori kepemimpinan seperti teori genetis ini mengasumsikan bahwa tidak setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya beberapa orang yang memiliki pembawaan dan bakat saja yang dapat menjadi pemimpin. Hal tersebut memunculkan “Pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk tapi dilahirkan”.

Teori kepemimpinan yang kedua yaitu teori sosial yang menyatakan bahwa seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena lingkungannya yang mendukung, keadaan dan waktu memungkinkan ia bisa menjadi pemimpin. Setiap orang dapat memimpin asal diberikan kesempatan dan diberikan pembinaan untuk  dapat menjadi pemimpin meskipun ia tidak memiliki pembawaan atau bakat. Adapun istilah dari teori kepemimpinan sosial ini yaitu pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan.

Teori kepemimpinan yang ketiga yaitu teori ekologis, dalam teori kepemimpinan ekologis ini menyatakan bahwa gabungan dari teori genetis dan sosial, dimana seseorang akan menjadi pemimpin membutuhkan bakat dan bakat tersebut mesti selalu dibina agar berkembang. Kemungkinan untuk bisa mengembangkan bakat tersebut itu tergantung dari lingkungannya.

Teori kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan situasi ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada dalam situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya tersebut tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan bisa jadi menjadi pengikut saja.

Oleh karena itu, jika seorang ingin menjadi pemimpin dan ingin meningkatkan kecakapannya dan kemampuannya dalam memimpin maka dibutuhkan untuk bisa mengetahui segala ruang lingkup gaya kepemimpinan yang efektif. Adapun para ahli dalam bidang kepemimpinan sudah meneliti dan mengembangkan beberapa gaya kepemimpinan yang berbeda dimana sesuai dengan adanya evolusi dari teori kepemimpinan. Untuk ruang lingkupnya, gaya kepemimpinan terbagi atas tiga pendekatan yaitu pendekatan sifat kepribadian pemimpin, dan pendekatan perilaku pemimpin dan pendekatan situasional atau kontingensi.

C.   Teori Lahirnya Seorang Pemimpin
Mengenai sebab-musabab munculnya pemimpin telah dikemukakan berbagai pandangan dan pendapat yang mana pendapat tersebut berupa teori yang dapat dibenarkan secara ilmiah, ilmu pengetahuan atau secara praktek.

Para ahli teori kepemimpinan telah mengemukakan beberapa teori tentang timbulnya Seorang Pemimpin. Menurut Sunindhia dan Ninik Widiyanti (1988:18) Dalam hal ini terdapat 3 (tiga) teori yang menonjol yaitu (1) teori genetik, (2) teori sosial, (3) teori ekologik.

Menurut Ordway Tead dalam buku Imam Mujiono (2002: 18) timbulnya seorang pemimpin itu karena:
1.    Membentuk diri sendiri (self constituted leader, self made man, born leader).
2.    Dipilih oleh golongan. Ia menjadi pemimpin karena jasa-jasanya, karena kecakapannya, keberaniannya dan sebagainya terhadap organisasi.
3.    Ditunjuk dari atas. Ia menjadi pemimpin karena dipercayai dan disetujui oleh pihak atasan.

Ambarita, dkk. (2014 : 63) mengatakan bahwa teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan bebebrapa segi antara lain : Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan, kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan pada setiap masa. Selanjutnya Ambarita, dkk. (2014 : 64) menjelaskan ada tiga teori kepemimpinan, yaitu (1) teori sifat, (2) teori perilaku, (3) teori situasional.

Hal-hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin (Suwatno dan Priansa 2011) adalah sebagai berikut:
1.    Tradisi/warisan: seseorang menjadi pemimpin, karena warisan/ keturunan, misalnya raja atau ratu Inggris, dan Belanda.
2.    Kekuatan pribadi baik karena alasan fisik maupun karma kecakaparmya.
3.    Pengangkatan atasan: seseorang menjadi pemimpin, karena diangkat oleh pihak atasannya.
4.    Pemilihan: seseorang menjadi pemimpin, karena berdasarkan konsep penerimaan/ acceptance theory) anda menjadi pemimpin dan kami akan menaati instruksi anda.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya, maka munculnya pemimpin dapat dijelaskan dalam beberapa teori-teori sebagai berikut:

1.    Teori Great Man
Anda mungkin pernah mendengar bahwa ada orang-orang tertentu yang memang "dilahirkan untuk memimpin". Menurut teori ini, seorang pemimpin besar dilahirkan dengan karakteristik tertentu seperti karisma, keyakinan, kecerdasan dan keterampilan sosial yang membuatnya terlahir sebagai pemimpin alami.

Teori great man mengasumsikan bahwa kapasitas untuk memimpin adalah sesuatu yang melekat, pemimpin besar dilahirkan bukan dibuat. Teori ini menggambarkan seorang pemimpin yang heroik dan ditakdirkan untuk menjadi pemimpin karena kondisi sudah membutuhkannya.
1.    Teori Sifat (Trait Theory)
Teori sifat berasumsi bahwa orang mewarisi sifat dan ciri-ciri tertentu yang membuat mereka lebih cocok untuk menjadi pemimpin. Teori sifat mengidentifikasi kepribadian tertentu atau karakteristik perilaku yang sama pada umumnya pemimpin. Sebagai contoh, ciri-ciri seperti ekstraversi, kepercayaan diri dan keberanian, semuanya adalah sifat potensial yang bisa dikaitkan dengan pemimpin besar.

Jika ciri-ciri khusus adalah fitur kunci dari kepemimpinan, maka bagaimana menjelaskan orang-orang yang memiliki kualitas-kualitas tetapi bukan pemimpin? Pertanyaan ini adalah salah satu kesulitan dalam menggunakan teori sifat untuk menjelaskan kepemimpinan. Ada banyak orang yang memiliki ciri-ciri kepribadian yang terkait dengan kepemimpinan namun tidak pernah mencari posisi kepemimpinan.

Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan  bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
a.    pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan.
b.    sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integrative.
c.    kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.  

Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain: terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin, justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.

2.    Teori Perilaku (Behavioral Theory)
Teori perilaku disebut juga dengan teori sosial dan merupakan sanggahan terhadap teori genetis. Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan dibentuk tidak dilahirkan begitu saja (leaders are made, not born). Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta dorongan oleh kemauan sendiri. Teori ini tidak menekankan pada sifat-sifat atau kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin tetapi memusatkan pada bagaimana cara aktual pemimpin berperilaku dalam mempengaruhi orang lain dan hal ini dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan masing-masing.

Dasar pemikiran pada teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Teori ini memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) soerang pemimpin. Alasannya sifat seseorang relatif sukar untuk diidentifikasikan.

Beberapa pandangan para ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari. Hal ini berarti bahwa orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun demikian hasil penelitian telah membuktikan bahwa perilaku kepemimpinan yang cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain. Akan tetapi, perilaku kepemimpinan ini keefektifannya bergantung pada banyak variabel.
Robert F. Bales (Stoner, 1986) mengemukakan hasil pemelitian, bahwa kebanyakan kelompok yang efektif mempunyai bentuk kepemimpinan terbagi (shared leadership), seumpama satu oramg menjalankan fungsi tugas dan anggota lainnya melaksanakan fungsi sosial. Pembagian fungsi ini karena seseorang perhatian akan terfokus pada satu peran dan mengorbankan peran lainnya.

3.    Teori Situasional
Konsep teori situasional adalah bahwa kepemimpinan seseorang muncul sejalan dengan situasi atau lingkungan yang mengelilingnya. Pada saat tertentu seseorang berfungsi sebagai pemimpin. Pada saat lain sebagai manusia yang dipimpin. Bakat dan kemampuan seseorang dapat mewujud hanya pada situasi tertentu. Teori ini adalah sintesis dari teori keturunan yang mengatakan bahwa bakat adalah faktor dominan dan teori kejiwaan yang berasumsi bahwa seseorang dapat menjadi pimpinan jika dibekali pengetahuan dan sejumlah pengalaman yang memadai.

Contoh lain, seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan A sukses memimpin organisasi dengan kegiatan pokok B. Jika suatu saat dialihtugskan ke organisasi lain dengan kegiatan pokok C, kinerjanya mungkin tidak efektif. Efektivitas kepemimpinan menurut teori situasi dipengaruhi beberapa hal, yaitu: (1) faktor manusia yang dipimpin, (2) fasilitas yang digunakan (3) jenis kegiatan organisasi, (4) misi organisasi, dan (5) situasi lain yang mengitarinya.

4.    Teori Kontigensi atau Teori Tiga Dimensi
Penganut teori ini berpendapat bahwa, ada 3 (tiga) faktor yang turut berperan dalam proses perkembangan seseorang menjadi pemimpin atau tidak, yaitu:
1) Bakat kepemimpinan yang dimilikinya.
2) Pengalaman pendidikan, latihan kepemimpinan yang pernah diperolehnya.
3) Kegiatan sendiri untuk mengembangkan bakat kepemimpinan tersebut.

Teori ini disebut dengan teori serba kemungkinan dan bukan sesuatu yang pasti, artinya seseorang dapat menjadi pemimpin jika memiliki bakat, lingkungan yang membentuknya, kesempatan dan kepribadian, motivasi dan minat yang memungkinkan untuk menjadi pemimpin.

Mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan. Berdasarkan uraian di atas, maka teori lahirnya seorang pemimpin diantaranya sebagai berikut :
1)    Teori "enetis Seorang pemimpin lahir bukan karena melaui proses yang memerlukan waktu yang lama, tetapi dia lahir menjadi pemimpin oleh bakat-bakatyang luar biasa sejak lahirnya. Dalam dirinya mengalir bakat-bakat dariorang tuanya maupun nenek moyang yang juga seorang pemimpin. Dia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi tertentu.Pemimpin yang lahir dari Faktor genetis, biasanya memiliki kemampuanyang luar biasa yang nampak sejak kecil.

2)    Teori Sosial Lebih menekan bahwa seorang pemimpin dapat disiapkan, dididik, dibentuk dan tidak dilahirkan begitu saja. Pemimpin menurut teori ini,dilahirkan melalui proses pendidikan, pelatihan, penyiapan untuk siap menjadi pemimpin. Ada yang berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.

3)    Teori Ekologis Bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan, juga sesuai dengan tuntutan ekologis lingkungannya.

Disamping teori yang sudah lama berkembang diatas terdapat teori-teori kepemimpinan yang mungkin sesuai perkembangan kemajuan perilaku dan budaya serta kebutuhan hidup rakyat memunculkan teori-teori sebagai berikut :
Teori Orang Kaya /Financial theory-Seseorang dapat muncul menjadi pemimpin dengan sangat tiba-tiba karena dipilih oleh anggota masyarakat untuk menjadi pemimpin karena mempunyai banyak uang, sehingga mampu membeli suara anggota organisasinya dan atau masyarakat dalam suatu pemilihan. Teori ini muncul dalam ketatanegaraan indonesia di era pemilihan.

Hakekatnya pemimpin yang DILAHIRKAN dengan pemimpin yang DICIPTAKAN tidak sama. Pemimpin yang dilahirkan tidak memerlukan butuh pendidikan tinggi. Tidak berarti mereka anti pendidikan. Kadang mereka sudah memiliki 'pengetahuan' alamiah, sentuhan pengetahuan di luarnya hanya merupakan stimulus saja. Ada antara mereka yang rajin membaca, juga ada yang menulis, bahkan ada yang tidak memiliki kedua-duanya. Tetapi gagasan mereka mengalir seperti air karena mereka mampu menggunakan seluruh inderanya. Pemimpin yang DILAHIRKAN memiliki idealisme yang tinggi dan kuat. Tindakan dan keputusan untuk orang banyak. Ia jarang memikirkan kekayaan bagi diri dan keluarganya. Kebanggaan ia adalah terealisasi idealismenya. Itulah kepuasaan bathinnya. Pemimpin yang DILAHIRKAN selalu unik, segala tindak-tanduknya alami dan kerap mecengangkan bagi banyak kalangan. 'Rada aneh', lain daripada yang lain. Tetapi mereka dicintai rakyat atau umat yang dipimpinnya. Sedangkan pemimpin yang diciptakan merupakan pemimpin yang merupakan hasil pembentukan di lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Pemimpin tipe ini mudah rapuh. Pengetahuan dan ketrampilan tidak cukup kuat untuk menjadikan pemimpin yang sejati. Ia gampang goyah karena tidak memiliki prinsip dan ideologis yang tangguh. Karena dasarnya ia tidak DILAHIRKAN menjadi pemimpin. Banyak pemimpin tipe ini yang lebih banyak mencoba-coba. Mereka mencoba karena adanya peluang dan jabatan politik tertentu sehingga memungkinkan mereka menjadi pemimpin. Proses menjadi pemimpin pun lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan 'bargaining' bukan kualitas kepemimpinannya. Pemimpin yang DICIPTAKAN tidak berarti tidak mampu memimpin. Mereka mampu memimpin, kecuali jika memperkuat prinsip dan ideologis yang kokoh terutama perjuangannya untuk kepentingan rakyat banyak. Bukan kepentingan diri, kelompok, dan suporter politisnya. Ia harus mampu menegakan hukum dan menjalankan roda kepemimpinan melalui rel hukum. Pemimpin yang DILAHIRKAN dan pemimpin yang DICIPTAKAN menampilkan dua sisi yang berbeda. Tipikal pertama lebih natural, sedangkan yang kedua cenderung tekstual. Jokowi dan Paus Fransiskus, contoh tokoh masa kini yang memang telah DILAHIRKAN menjadi pemimpin. Mereka memiliki bakat dan energi kepemimpinan. Alur kepemimpinannya fleksibel, konsisten pada penegakan hukum tetapi lembut dalam pendekatan yang manusiawi. Karena itu ia menjadi sosok yang populis. Mereka menjadi pembeda dengan para pemimpin pada umumnya. Pemimpin yang DILAHIRKAN adalah pemimpin yang tidak memunafikan diri. Ia apa adanya dan kadang 'tidak ada apa-apanya' di hadapan lawannya, namun dekat di hati rakyat atau umatnya. Ketika kita merindukan Soekarno atau mengarahkan semua pemimpin dalam negeri untuk meneladani Jokowi atau merindukan sosok Paus Fransiskus, sejatinya ungkapan kerinduan kita akan LAHIRNYA sosok yang menjadi pemimpin, bukan sosok yang DICIPTAKAN menjadi pemimpin.

5.   Teori Atribut Kepemimpinan
Teori atribut kepemimpinan mengemukakan bahwa kepemimpinan semata-mata merupakan suatu atribusi yang di buat orang atau seorang pemimpin mengenai individu-individu lain yang menjadi bawahannya.
   Beberapa teori atribusi yang hingga saat ini maih diakui oleh banyak masyarakat, yang sebagai berikut.
1.    teori penyimpulan terkait ( corespondensi inference ), yakni perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya.
2.    Teori sumber perhatian dalam kesadaran bahwa proses presepi terjadi dalamkognisi orang yang melakukan presepsi (pengamatan).
3.    Teori atribusi internal dan eksternal dikemukakan oleh Kelly & Micella, 1980 merupakan teori yang befokus pada akal sehat.
6.    Kepemimpinan Karismatik
Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktif antara pemimpin dan para pengikut. atribut-atribut karisma antara lain adalah rasa percaya diri, keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara, dan yang lebih penting adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan kebutuhan para pengikut.
berbagi teori tentang kepemimpinan karismatik telah dibahas dalam kegiatan beelajar ini. Teori karismatik dari house menekankan pada identifikasi pribadi, pebangkitan motivasi oleh pemimpin, dan pengaruh pemimpin terhadap tujuan-tujuan dari rasa percaya diri para pengikut . Teori atribusi tentang karisma lebih menekankan pada identiikasi pribadi sebagai proses utama memengaruhi dan internalisasi sebagai proses sekunder.
teori konsepsi diri sendiri menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial, dan pengaruh pemimpin terhadap kemampuandiri dengan hanya memberi peran yang sedikit terhadap  identifikasi pribadi. sementara itu, tori penularan sosial menjelaskan bahwa perilaku para pengikut di pengaruhi oleh pemimpin tersebut mungkin melalui identifikasi pribadi dan para pengikut lainnyadipengaruhi melalui proses penularan sosial. Pada sisi lain, penjelasan psikoanalisis tentang karisma memberikan kejelasan kepada kita bahwa pengaruh dari pemimpin berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpn tersebut.
karisma merupakan sebagai fenomena. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin karismatik untuk merutinisi karisma walaupun sukar untk dilaksanan. kepemimpinan karismatik memiliki dampak positif maupun negatif terhadap para pengikut dan organisasi.
7.    Kepemimpinan Transformasional
pemimpin transformasi mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya pada cita-cita dan nilai-nilai moral yang lebih tinggi. Burns dan Bass telah menjelaskan kepemimpinan transformasional dalam organisasi dan membedakannya dari kepemimpinan karismatik dan transaksional.
pemimpin transformasional membuat para pengikut menjadi lebih peka terhadap nilai dan pentingnya pekerjaan, mengaktifkan kbutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi, dan menyebabkan para pengikut lebih mementingkan organisasi. Hasilnya adalah para pengikut merasa adanya kepercayaan dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut, serta tarmotifasi untuk melakukan sesuatu dari yang diharapkan darinya. efek-efek transformasional dicapai dengan menggunakan karisma, kepemimpinan inspirasional, perhatian yang diindividualisasi, serta stimulasi intelektual.
hasil penelitian Bennis dan Nanus, Tichy dan Devanna telah memberikan suatu kejelasan tentang cara pemimpin transformasional mengubah budaya dan pemimpin transformasional  mengubah budaya dan strategi-strategi sebuah organisasi. pada umumnya, para pemimpin transformasional memformulasikan sebuah visi, mengembangkan sebuah komitme terhadapnya, melaksanakan strategi-strategi untuk mencapai visi tersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.
pada tahun 60-an, kajian-kajian kepemimpinan telah berkembang dikalangan para ilmuan perilaku, yang secara khusus mendalaminya cenderung memahami kepemimpinan dalam konteks perilaku pemimpin yang kaku.
kecenderungan untuk memahami kepemimpinan secara organik; kepemimpinan seperti mesinis mengabaikan sisi sosial budaya dari organisasi; mengabaikan budaya yang tidak tampak. dari sinilah lahir pemahaman bahwa seorang pemimpin yang kuat sangat disyaratkan dalam sistem birokrasi ketat dan kaku sehingga penekanan kepemimpinan selalu berada pada sikap pemimpin yang kaku dalam memengaruhi anggota organisasi.
dewasa ini muncul pengertian tentang kepemimpinan bahwa dalam sejumlah kajian, kepemimpinan memiliki muatan sosial budaya yang lebih kuat. Hal ini di dasari oleh kuatnya pencitraan sosiologis terhadap organisasi sehingga ia dilihat sebagaisistem sosial yang memiliki dimensi sosial budaya.
kepemimpinan pun tidak lagi dipahami secara organik, tetapi ia merupakandimensi organisasi yang mempunyai kontribusi untuk membangun budaya organisasi yang sehat.
Ownes (1991 :132) menegaskan kepemimpinan merupakan dimensi hubungan sosial dalam organisasi dalam rangka memberiakn pengaruh antara individu atau kelompok melalui interaksi sosial.
kepemimpinan dalam organisasi secara khusus mempunyai penekanan pada pentingnya posisi kepemimpinan untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas organisasi.
Dalam hubungan ini dapat dikemukakan beberapa teori kepemimpinan sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli.

A.    Teori Timbulnya Kepemimpinan
Di antara berbagai teori yang menjelaskan sebab-sebab timbulnya kepemimpinan terdapat tiga teori yang menonjol, yaitu :
1.    Teori Keturunan (Heriditary Theory)
2.    Teori Kejiwaan (Psychological Theory)
3.    Teori Lingkungan (Ecological Theory)

Masing – masing teori dapat dikemukakan secara singkat :
1.    Teori Keturunan
Inti daripada teori ini, ialah :
a.    Leaders are born not made.
b.    Seorang pemimpin menjadi pemimpin karena bakat – bakat yang dimiliki sejak dalam kandungan.
c.    Seorang pemimpin lahir karena memamng ditakdirkan. Dalam situasi apapun tetap muncul menjadi pemimpin karena bakat-bakatnya.

2.    Teori Kejiwaan.
a.    Leaders are made and not born.
b.    Merupakan kebalikan atau lawan dari teori keturunan.
c.    Setiap orang bias menjadi pemimpin melalui proses pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3.    Teori Ekologis
a.    Timbul sebagai reaksi terhadap teori genetis dan teori social.
b.    Seseorang hanya akan berhasil menjadi seorang pemimpin, apabila pada waktu lahir telah memiliki bakat, dan bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur dan pengalaman.
c.    Teori ini memanfaatkan segi-segi positif teori genetis dan teori social.
d.    Teori yang mendekati kebenaran.

B.    Teori Kepemimpinan Berdasarkan Sifat
Di tinjau dari segi sejarah, pemimpin atau kepemimpinan lahir sejak nenek moyang, sejak terjadinya hubungan kerjasama atau usaha bersama antara manusia yang satu dengan dengan manusia yang lain untuk menjapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Jadi kepemimpinan lahir bersama – sama timbulnya peradaban manusia.

·         Machiavelli
Ia terkenal tentang nasehatnya mengenai kebijaksanaan yang harus dimiliki oleh seorang Perdana Mentri, yaitu antara lain harus mempunyai keahlian dalam :
a.    Upacara – upacara ritual, kebaktian keagamaan
b.    Peratuaran dan perundang – undangan
c.    Pemindahan dan pengangkutan
d.    Pemberian honorium/pembayaran dan kepangkatan
e.    Upacara – upacara dan adat kebiasaan.
f.     Pemindahan pegawai untuk menhindarkan kegagalan
g.    Bertani dan pekerjaan lainnya.

·         Empuh Prapanca dengan bukunya yang terkenal Negara Kertagama menyebut 15 sifat yang baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu:
a.    Wijana, sikap bijaksana
b.    Mantri wira, sebagai pembela negara sejati
c.    Wicaksaning naya, bijaksana dalam arti melihat masa lalu, kemampuan analisa, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
d.    Matanggwan, mendapat kepercayaan yang tinggi dari yang dipimpinnya.
e.    Satya bakti haprabu, setia dan bakati kepada atasan (loyalitas).
f.     Wakjana, pandai berpidato dan berdiplomasi.
g.    Sajjawopasama, tidak sombong, rendah hati, manusiawi.
h.    Dhirrottsaha, bersifat rajin sungguh- sungguh kreatif dan penuh inisiatif.
i.      Tan-lalana, bersifat gembira, periang.
j.      Disyacitra, Jujur terbuka.
k.    Tancatrisan, tidak egoistis.
l.      Masihi Samastha Bhuwana, bersifat penyayang, cinta alam.
m.   Ginong Pratidina, tekun menegakkan kebenaran.
n.    Sumantri, sebagai abdi negara yang baik.
o.    Ansyaken musuh, mampuh memusnakan setiap lawan.

·         Ajaran Hasta Brata.
Hasta Bhrata (delapan pedoman pilihan) yang terdapat dalam kitab Ramayana berisi sifat - sifat positif sebagai pedoman bagi setiap pemimpin adalah :
a.    Sifat matahari (surya) Yaitu:
- Menerangi dunia dan memberi kehidupan pada semua mahluk.
- Menjadi penerang selurah rakyat.
- Jujur dan rajin bekerja sehingga negara aman dan sentosa.
b.    Sifat bulan (candra) yaitu:
- Memberi penerangan terhadap rakyat yang sedang dalam kegelapan (kesulitan)
- Menerangkan perasaan dan melindungi rakyat sehingga terasa tentram untuk menjalankan tugas masing- masing.
c.    Sifat Bintang (kartika) yaitu:
- Menjadi pusat pandangan sumber susila dan budaya, dan menjadi suri tauladan
d.    Sifat Awan yaitu :
- Dapat menciptakan kewibawaan
- Tindakan mendorong agar rakyat tetap taat.
e.    Sifat Bumi yaitu:
- Ucapanya sederhana.
- Teguh, dan kokoh pendiriannya.
f.     Sifat Samudera,yaitu:
- mempunyai pandangan yang luas
- membuat rakyat seia sekata.
g.    Sifat Api (Agni) yaitu:
- Menghukum siapa saja yang bersalah tanpa pandang bulu.
h.    Sifat Angin (Bayu) yaitu :
- terbuka dan tidak ragu – ragu terhadap semua masalah.
- Bersikap adil terhadap siapa pun.

·         The Traits and abilities Theory yang dikemukakan oleh stogdill dengan menekan pada kwalitas individu dan terdapat relevansi yang erat antara sifat dan kepemimpinan (capacity, status, participation, responsibility,achievement).

C.   Teori Kepemimpinan Berdasarkan Tingkah Laku
Dengan memusatkan pada ciri-ciri dan gaya yang dimiliki oleh setiap pemimpin yang bersangkutan, mereka yakin akan berhasil dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Sehingga gaya dan ciri-ciri tersebut akan menimbulkan berbagai tipe.
Ada beberapa tipe kepemimpinan.

1.    Tipe Otoriter
Tipe ini mempunyai sifat-sifat:
a.    Semua kebijaksanaan ditentukan oleh pemimpin
b.    Organisasi dianggap milik pribadi pemimpin
c.    Segala tugas dan pelaksanaannya ditentukan oleh pemimpin .
d.    Kurang ada partisipasi dari bawahan .
e.    Tidak menerima kritik, saran dan pendapat bawahan .


2. Tipe Demokratis
a.    Semua kebijaksanaan dan keputusan dilakukan sebagai hasil diskusi dan musyawarah .
b.    Kebijaksanaan yang akan dating ditentukan melalui musyawarah dan diskusi.
c.    Anggota kelompok, bebas bekerjasama dengan anggota yang lain, dan berbagai tugas diserahkan kepada kelompok .
d.    Kritik dan pujian bersifat objektif dan berdasarkan fakta-fakta .
e.    Pemimpin ikut berpartisipasi dalam kegiatan sebagai anggota biasa
f.     Mengutamakan kerjasama .


3. Tipe Semuanya
a.    Kebebasan diberikan sepenuhnya kepada kelompok atau perseorangan di dalam pengambilan kebijaksanaan maupun keputusan.
b.    Pemimpin tidak terlibat dalam musyawarah kerja .
c.    Kerjasama antara anggota tanpa campur tangan pemimpin .
d.    Tidak ada kritik, pujian atau usaha mengatur kegiatan pemimpin .


Di samping ketiga gaya kepemimpinan diatas Sondang P.Siagian, MPA.,Ph.D. mengemukakan tipe pemimpin yang lain, ialah:

4. Tipe Militeristis
a.    Lebih sering mempergunakan perintah terhadap bawahan .
b.    Perintah terhadap bawahan sangat tergantung pada pangkat dan jabatan .
c.    Menyenangi hal-hal yang bersifat formal .
d.    Sukar menerima kritik .
e.    Menggemari berbagai upacara

5. Tipe Paternalistik
a.    Bersikap melindungi bawahan .
b.    Bawahan dianggap manusia yang belum dewasa .
c.    Jarang ada kesempatan pada bawahan untuk mengambil inisiatif .
d.    Bersikap maha tahu .

6. Tipe Karismatis
a.    Mempunyai daya tarik yang besar, oleh karenanya mempunyai pengikut yang besar .
b.    Daya tarik yang besar tersebut kemungkinan disebabkan adanya kekuatan gaib (supernature) .

Disamping teori yang telah dikemukakan diatas, ada teori lain yang Dikemukakan oleh W.J. Reddin dalam artikelnya yang berjudul “What Kind of Manager”.
Ada tiga pola dasar yang dapat dipakai untuk menentukan watak atau tipe seorang pemimpin. Ketiga pola dasar tersebut :
1.Berorientasi tugas (task orientation).
2.Berorientasi pada hubungan kerja (Relationship orientation).
3.Berorientasi pada hasil (effectiveness orientation).
Berdasarkan sedikit banyaknya orientasi atau penekanan ketiga hal diatas pada diri seorang pemimpin akan dapat ditentukan delapan tipe pemimpin masing-masing ialah:
1.Deserter
2.Bureaucrat
3.Missionary 
4.Developer 
5.Autocrat
6.Benevolent autocrat
7.Compromiser
8.Executive
D.   Pendekatan Studi Kepemimpinan
Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan kedalam empat macam pendekatan, yaitu:
1.      Pendekatan menurut pengaruh kewibawaan (power influence approach)
Pendekatan ini mengatakan bahwa keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan tersebut kepada bawahan.
Pendekatan ini menekankan sifat timbal balik, proses saling mempengaruhi dan pentingnya pertukaran hubungan kerja sama antara para pemimpin dengan bawahan.[25]
2.      Pendekatan sifat (trait approach)
Keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin.Sifat-sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan dan keturunan.[26]Jadi, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.Banyak ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat-sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat sukses dalam kepemimpinannya. Ghizeli dan Stogdil misalnya mengemukakan adanya lima sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu: kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian.Seain itu, dari hasil studi pada tahun 1920-1950,diperoleh kesimpulan adanya tiga macam sifat pribadi seorang pemimpin meliputi ciri-ciri fisik, kepribadian, dan kemampuan atau kecakapan.
Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan pendekatan sifat, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan ditentukan pula oleh kecakapan atau keterampilan (skills) pribadi pemimpin.[27]

3.      Pendekatan perilaku (behaviour approach)
Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya.[28]
4.      Pendekatan situasional (situational approach)
Pendekatan situasional biasa disebut dengan pendekatan kontingensi.Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja.Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat, watak dan situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula.
Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan antara lain: sifat pribadi pemimpin, sifat pribadi bawahan, sifat pribadi sesama pemimpin, struktur organisasi, tujuan organisasi, motivasi kerja, harapan pemimpin maupun bawahan, pengalaman pemimpin maupun bawahan, adat, kebiasaan, budaya lingkungan kerja dan lain sebagainya.[29]
Pendekatan kontingensi menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi.Teori ini bukan hanya penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan tetapi turut membantu para pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi.[30]
E.   Sifat-Sifat Kepemimpinan
Upaya untuk menilai sukses tidaknya pemimpin itu dilakukan antara lain dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat dan kualitas atau mutu perilakunya, yang dipakai sebagai kriteria untuk menilai kepemimpinannya

Edwin Ghiselli mengemukakan 6 (enam) sifat kepemimpinan, yaitu :
1)    Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksana fungsi-fungsi dasar manajeme.
2)    Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses.
3)    Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif, dan daya pikir.
4)    Ketegasan, atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
5)    Kepercayaan diri, atau pandangan pada diri sehingga mampu menghadapi masalah.
6)    Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menentukan cara-cara baru atau inovasi.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan yaitu, keinginan pemimpin, pemimpin mempunyai kehendak yang kuat untuk mempengaruhi dan memimpin orang lain. Mereka menunjukkan kemauan mengemban tanggung jawab.
1.    Kejujuran dan integritas, pemimpin membangun hubungan saling mempercayai antara meraka sendiri dan pengikutnya dengan menjadi jujur dan tidak menipu dan menunjukan konsistensi yang tinggi antara perkataan dan perbuatan.
2.    Kepercayaan diri, para pengikut melihat pemimpinnya tidak meragukannya sebagai pemimpin. Jadi, pemimpin perlu menunjukan kepercayaan diri untuk meyakinkan pengikutnya tentang kebenaran sasaran dan keputusannya.
3.    Kecerdasan, pemimpin haruslah cukup cerdas untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan banyak informasi, dan mereka harus mampu menciptakan visi, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang tepat.
4.    Pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan, pemimpin yang efektif mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi tentang organisasi yang dipimpinnya. Pengetahuan yang mendalam membuat pemimpin dapat membuat keputusan yang terinformasi dengan baik dan memahami akibat dari keputusan itu. Kepemimpinan yang efektif tidak dapat tercapai tanpa inisiatif dan kerja sama anggota organisasi. Pemimpin membutuhkan sentuhan, empati, dan perlu berada ditengah-tengah bawahannya.

Seorang pemimpin seharusnya menjadi bagian dari “apa yang terjadi” bukan terpisah dari “apa yang terjadi”. Hal ini menunjukan bahwa pemimpin itu bekerja tidak sendirian, dia mempunyai lingkungan yang setiap saat diperlukan untuk berinteraksi. Lingkungan itu luas, dan beraneka macamnya, dan masing-masing pemimpin mempunyai lingkungan yang berlainan, tetapi peranan yang dimainkan pada hakekatnya tidak ada perbedaan.
Perilaku pemimpin dipengaruhi oleh sifat pemimpin, yang mencakup kemampuan, kepribadian dan motivasi. Sifat pemimpin ini akan mempengaruhi perilaku pemimpin, yaitu orientasi tugas, orientasi manusia, struktur inisiasi, konsiderasi, transaksional, transformasional, dan prima.

Variabel situasional berupa kebutuhan pengikut, struktur tugas dan sebagainya berpengaruh secara timbal-balik dengan perilaku pemimpin. Perilaku pemimpin dan variabel situasional secara bersama-sama akan mempengaruhi efektifitas organisasi.
F.    Sifat Yang Membuat Pemimpin Disukai
Bagaimana sebuah tim akan solid jika pemimpin tak disukai pengikutnya dan integritasnya, rendah? Padahal keberhasilan sebuah tim meraih target tergantung dari kemampuan pemimpin memberdayakan timnya. Karenanya pernimpin harus menjadi figur yang disukai dan menjadi teladan.

Lihatlah realita di sekitar kita. Posisi pemimpin menjadi rebutan. Segalanya dipertaruhkan, bahkan sampai “sikut sana, sikut sini”. Akhirnya ketika sudah menduduki posisi pemimpin, popularitas dan materilah yang ia kejar, bukan kewajiban sebagai pemimpin yang ia jalankan. Hubungan pemimpin dan pengikut pun sekadar formalitas yang kaku.

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang baik dalam memimpin diri sendiri, serta memimpin (baca: melayani) keluarga, tim kerja dan masyarakat. Paling tidak ada 15 sikap pemimpin yang disukai orang. Mulai dari hati, pikiran, perkataan hingga tindakan seorang pemimpin yang patut diteladani oleh setiap anggota tim, bukannya sekadar menjadi bahan diskusi atau teori.

1)    lkhlas. Pemimpin yang ikhlas akan dekat di hati orang-orang yang dipimpinnya. la mendasari kepemimpinannya dengan rasa mencintai sesamanya serta sarana beribadah kepada Tuhan. Keikhlasan hatinya membuat ia tegar terhadap segala ujian. la tidak mengharapkan pujian, mengabaikan cacian, tidak pernah dendam. la menjalankan kewajibannya yaitu melayani orang-orang yang dipimpinnya. Orang pun ikhlas dipimpin oleh pernimpin seperti ini.
2)    Amanah & tanggung jawab. Pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab menyebabkan hak-hak semua anggota tim ditunaikan dengan baik. Rakyat akan mencintai pernimpin seperti ini.
3)    Teguh pendirian. Pemimpin harus teguh pada kebenaran yang sesuai norma agama dan hukum masyarakat, Pemimpin tetap profesional dan tak tergelincir pada masalah KKN yang marak dewasa ini. Bukan hanya korupsinya, tapi juga kolusi dan repotisme.
4)    Sabar. Sikap ini selalu menguntungkan, tidak ada kata ruginya sama sekali. Berhadapan dengan berbagai ragam karakter orang yang harus dilayani menuntut kesabaran yang tinggi. Pemimpin yang penyabar mampu menangani setiap permasalahan dengan rasional.
5)    Tidak sombong. Sifat ini dicintai Tuhan, disukai manusia, Pemimpin mestinya tidak tabu terhadap kritik, tidak gila hormat dan pujian. la tidak menerapkan prinsip aji mumpung, mumpung punya kuasa.
6)    Berkata benar. Pemimpin yang tetap berkata benar walau dalam apa pun juga keadaannya. Orang yang jujur disukai (disegani) kawan dan lawan. Sekali berbohong, akan berbuntut kebohongan lainnya, sehingga akhirnya ia tidak akan mendapat kepercayaan dari orang Iain.
7)    Cinta ilmu. Ilmu pengetahuan merupakan tonggak kepimpinan. Formalitas dunia bisnis masih mensyaratkan ijazah sebagai pengukur keilmuan seseorang. Karenanya pemimpin perlu terus mengasah dirinya dengan Imu, sesuai bidang atau umum. Namun yang lebih penting sebenarnya ialah buah kepada Imu yang dipelajari dalam bentuk keterampilan dan pengalaman.
8)    Mahir berkomunikasi. Pemimpin harus mahir menggunakan bahasa untuk menimbulkan kesan positif atas hubungan khususnya antara pemimpin dan individu yang dipimpinnya. Bahasa komunikasi yang baik bisa membuat seorang pemimpin dipandang menarik walaupun mungkin penampilannya kurang menarik. Kala menghukum/mengritik nada bicaranya tidak terasa pedas dan menyakitkan, bahkan justru bisa mendorong semangat anak buahnya untuk memperbaiki diri. Pujiannya juga pas dan tulus.
9)    Tepat janji. Jika sudah berjanji, sekecil apa pun itu, penting bagi seorang pemimpin untuk menepatinya agar semakin dipercayai dan disukai. Orang tidak akan ragu-ragu untuk terus memberi mandat kepada pemimpin yang selalu menepati janji. Pemimpin yang menabur janji-janji kosong akan membuat anggota tim kecewa dan memandang pemimpinnya tidak lagi punya integritas yang tinggi.
10)  Berhati-hati. Berhati-hati dalam membuat keputusan atau berbicara menjadikan seseorang pemimpin dihormati. la selalu bertindak berdasarkan norma atau pemikiran yang jelas, serta menjauhi perkara yang meragukan (di wilayah abu-abu). Sikap ini disukai orang karena menunjukkan pemimpin tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang punya maksud terselubung.

G.   Karakteristik Dan Peran Kepemimpinan
menurut teori situasional pemimpin yanga paling otokratik sekalipun akan mengubah gayakepemimpinan yang otokratik itu dengan gaya lain, jika situasi tertentu  menuntutnya, karena apabila konsisten terhadap gaya otokratik akan membahayakan kedudukanya sebagai pemimpin. Demi berlangsung kepemimpinannya tidak punya pilihan lain kecuali melakukan penyesuaian yang dituntut oleh situasi yang dihadapinya. Sebaliknya pemimpin yang demokratik mungkin saja bertindak otoriter apabila situasinya menghendakinya.
Mar’at (2004: 2) menyatakan karakteristik kepemimpinan harus memenuhi syarat; keadaan fisik yangkondisional, kecerdasan tinggi, penyesuaian diri; kemampuan meliputi; inisiatif dan ambisi, meneliti kepribadian dengan penuh optimis dan memiliki sifat-sifat situasional yaitu kemampuan berpartisipasi sosial dalam situasi apapun.
dalam prespektif Al-Qur’an  manusia diperintahakan Allah SWT untuk mengemban tugas sebagai khalifa (pemimpin) di muka bumi. selaku pemimpin, manusia memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan perikehidupan bumi terhadap penciptanya (Al-Munawar, 2009: 71). sorang pemimpin berdasarkan isyarat Al-Qur’an harus memiliki beberapa sifat, di antaranya sebagaimana dikutip ole Ali Muhammad taufiq (2004: 37) sebagai berikut:
1.    Memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaannya. (Q.S 61:1)
2.    mempunyai keistimewaan yang lebih dibandingkan orang lain (Q.S 2:274)
3.    memahami kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya (Q.S 14:4)
4.    mau mendengarkan nasihat dan tidak sombong (Q.S 2:206)
5.    membangun kesadaran akan adanya pengawasan dari Allah (Q.S 22:41)
6.    konsekuen dalam kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu (Q.S 38:26)
7.    mempunyai power pengaruh yang dapat memerintah dan mencegah (Q.S 22:41)
8.    bermu’amalah dengan lembut dan kasih sayang terhadap yang dipimpinannya (Q.S 3:159)
9.    menertibkan semua urusan dan membulatkan tekad untuk kemudian bertawakal kepada Allah (Q.S 3:159)
10.   menyukai saling memaafkan antara pemimpin dan pengikutnya (Q.S 3:159)

menelusuri Al-Qur’an dan Hadist ada empat yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin:
1.    Al-Sidiq yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap serta berjuang dalam melaksanakan tugasnya.
2.    Al-Amana yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya baik dari tuhan maupun dari orang yang dipimpinnya sehingga terjadi rasa aman dari semua pihak
3.    Al-Fathona yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoaalan yang muncul seketika.
4.    Al-Tabliq, yaitu menyampaikan yang jujur dan bertanggungjawab dan penuh keterbukaan (Madjid, 1992:48)

Berdasarkan pengertian kepemimpinan di atas, tindakan kepemimpinan di pandang sebagai fungsional, karena pada hakekatnya dilaksanakan oleh administrator yang berada di tingkat legislatif, bersifat menentukan bagi unsur-unsur organisasi secara keseluruhan. Syekh Mustafa Al-Ghalayaini menjelaskan  bahwa tidaklah dikatakan pemimimpin yang sebenarnya, sehingga terpenuhi dalam di dalamnya syarat kepemimpinan yaitu: a) berakal sehat, b) kemempuan berbagai bidang ilmu, c) punya gagasan baik, d) berwibawa, e) tangkas dan berani, f) berhati nurani bersih, g) pandai bergaul, h) pemurah, i) pengorbanan yang besar bagi perjuangan umat dan j) mengajarkan ilmu yang dimiliki di tengah tengah umat (Al-Ghalayaini, 1949:101)

Dalam perspektif yang lebih sederhana, Morgan (1996: 156) mengemukakan 3 macam peran pemimpin yang disebut 3A, yakni:

1.    Alightting, menyalakan semangat pekerja dengan tujuan individunya
2.    Aligning, menggabungkan tujuan individu dengan tujuan organisasi sehingga setiap orang menuju ke arah yang sama.
3.    Allowing, memberikan keleluasaan kepada pekerja untuk menantang dan mengubah cara kerja mereka

Seorang pemimpin dituntut untuk dapat mengorganisasikan lembaga maupun intitusinya. Pemimpin harus mampu menciptakan suasana kerja  yang sehat seperti memupuk dan memelihara kesediaan bekerja sama di dalam kelompok demi tercapainya tujuan bersama, menanamkan dan memupuk perasaan anggota masing masing bahwa mereka termasuk dalam kelompok dapat dibentuk melalui penghargaan terhadap usaha usahanya dan sifat yang ramah tamah.

Sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi kemapuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, justru yang lebih dominan dipengaruhi oleh sifat dan ciri kelompok yang dipimpinnya, sehingga memerlukan gaya dan model kepemimpinan yang berbeda dan beragam. Faktor-Faktor yang mempengaruhi bentuk kepemimpinan seseorang seperti tingkat pendidikan kepala sekolah  merupakan suatu fenomena yang sangat berarti, sebab rendahnya tingkat pendidikan berarti rendahnya penguasaan kompetensi kepemimpinanya. Gejala ini bermuara pada peningkatan kualitas sekolah pada bidang pendidikan dan administrasi. Selain itu, usaha kepala sekolah memimpin para bawahanya juga akan berpengaru besar terhadap peningkatan kinerja bawahannya.
kepemimpinan bermanfaat bagi setiap pemimpin menjalankan perannya sebagai pemimpin pendidikan yaitu anatara lain beperan sebagai, educator, manager, administrator, supervisior, leader, enterepreneuer, motivator, climator, and organizer (EMASLE-CO) Usman, (2006: 246). Mukhtar Latif (2003: 131) mengemukakan faktor penentu keberhasilan seorang pemimpin diantaranya adalah otentik , kepemimpinan yaitu menciptakan situasi sehingga menyebabkan orang yang dipimpinnya timbul kesadaranya untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh seorang pemimpin.
Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanakannya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpin yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajiban sebagai sorang pemimpin, serta melaksanakan perannya sebagai seorang pemimpin. Disamping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan bawahan merasa aman, tentram dan memiliki suatu kebebasan dalam mengembangkan gagasanya dalam rangka tercapainya tujuan bersama yang telah ditetapkan.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kepemimpinan (Leadership) adalah segala upaya yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain dengan cara memberdayakannya, mengarahkannya untuk mewujudkan suatu tujuan bersama.
Dalam usaha memiliki kepemimpinan yang efektif dan berdaya guna dilakukanlah penelitian yang menghasilkan beberapa teori kepemimpinan yaitu:
1 Teori berdasarkan watak atau sifat (Trait Theory)
2 Teori berdasarkan Perilaku (Behavior Theory)
3 Teori Kepemimpinan berdasarkan Situasi (Situational Theory)
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang baik dalam memimpin diri sendiri, serta memimpin (baca: melayani) keluarga, tim kerja dan masyarakat. Paling tidak ada 15 sikap pemimpin yang disukai orang. Mulai dari hati, pikiran, perkataan hingga tindakan seorang pemimpin yang patut diteladani oleh setiap anggota tim, bukannya sekadar menjadi bahan diskusi atau teori.
Mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan. Berdasarkan uraian di atas, maka teori lahirnya seorang pemimpin diantaranya sebagai berikut :
1. Teori "enetis Seorang pemimpin lahir bukan karena melaui proses yang memerlukan waktu yang lama, tetapi dia lahir menjadi pemimpin oleh bakat-bakatyang luar biasa sejak lahirnya. Dalam dirinya mengalir bakat-bakat dariorang tuanya maupun nenek moyang yang juga seorang pemimpin. Dia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi tertentu.Pemimpin yang lahir dari Faktor genetis, biasanya memiliki kemampuanyang luar biasa yang nampak sejak kecil.
2. Teori Sosial Lebih menekan bahwa seorang pemimpin dapat disiapkan, dididik, dibentuk dan tidak dilahirkan begitu saja. Pemimpin menurut teori ini,dilahirkan melalui proses pendidikan, pelatihan, penyiapan untuk siap menjadi pemimpin. Ada yang berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3. Teori Ekologis Bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan, juga sesuai dengan tuntutan ekologis lingkungannya.
Disamping teori yang sudah lama berkembang diatas terdapat teori-teori kepemimpinan yang mungkin sesuai perkembangan kemajuan perilaku dan budaya serta kebutuhan hidup rakyat memunculkan teori-teori sebagai berikut :
4. Teori Orang Kaya /Financial theory-Seseorang dapat muncul menjadi pemimpin dengan sangat tiba-tiba karena dipilih oleh anggota masyarakat untuk menjadi pemimpin karena mempunyai banyak uang, sehingga mampu membeli suara anggota organisasinya dan atau masyarakat dalam suatu pemilihan. Teori ini muncul dalam ketatanegaraan indonesia di era pemilihan.

B. Saran
Hakekatnya pemimpin yang dilahirkan dengan pemimpin yang diciptakan tidak sama. Pemimpin yang dilahirkan tidak memerlukan butuh pendidikan tinggi. Tidak berarti mereka anti pendidikan. Kadang mereka sudah memiliki 'pengetahuan' alamiah, sentuhan pengetahuan di luarnya hanya merupakan stimulus saja. Ada antara mereka yang rajin membaca, juga ada yang menulis, bahkan ada yang tidak memiliki kedua-duanya. Tetapi gagasan mereka mengalir seperti air karena mereka mampu menggunakan seluruh inderanya. Pemimpin yang dilahirkan memiliki idealisme yang tinggi dan kuat.





DAFTAR PUSTAKA
Kompri, S.Pd.I., M.Pd.I, Manajemen pendidikan 1,Bandung: Alfabeta 2015.
Rahmat Abdul, S.Sos.I, M.Pd., Dra. Boekoesoe Lintje, M. Kes., Kepemimpinan Gaya, Tipolologi, dan praksis, Bandung: MQS Publishing 2009



Makalah Manajemen Kepemimpinan (Teori Kepemimpinan)

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami ...