KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang TEORI-TEORI DALAM STUDI KEPEMIMPINAN meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami
berterima kasih pada Bapak ADNAN A IBRAHIM,S.PD,M.PD Dosen mata kuliah
Organisasi Pendidikan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai TEORI-TEORI DALAM STUDI KEPEMIMPINAN Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah
ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi
siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon
maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu
yang akan datang.
Daftar Isi
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 1
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 2
BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................................. 3
A. Latar Belakang................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah............................................................................................ 3
C. Tujuan.................................................................................................................. 3
BAB II : PEMBAHASAN................................................................................................ 4
A. Devinisi Kepemimpinan................................................................................... 4
B. Teori Kepemimpinan......................................................................................... 6
C. Teori Lahirnya Seorang Pemimpin................................................................. 7
D. Pendekatan Studi Kepemimpinan............................................................... 22
E. Sifat Sifat Kepemimpinan.............................................................................. 24
F. Sifat Yang Membuat Pimpinan Disukai...................................................... 25
G. Karakteristik Dan Peran Kepemimpinan..................................................... 27
BAB III : PENUTUP...................................................................................................... 31
A. Kesimpulan....................................................................................................... 31
B. Saran................................................................................................................. 32
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 33
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kepemimpinan sebagai
salah satu fungsi manajamen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai
tujuan organisasi. dengan amat berat seolah-olah kepemimpinan dipaksa
menghadapi berbagai macam faktor seperti : struktur atau tatanan, koalisi,
kekuasaan, dan kondisi lingkungan organisasi. sebaliknya, kepemimpinan rasanya
dapat dengan muda menjadi satu alat penyelesaian yang luar biasa terhadap
persoaalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi.
Dalam hal ini
kepemimpinan dapat berperan di dalam melindungi beberapa isi penganturan
organisasi yang tidak tepat, seperti : distribusi kekuasan menjadi penghalang
tindakan yang efektif, kekurangan berbagai macam sumber, prosedur yang dianggap
buruk (archaic procedur), dan
sebagainya yaitu problem-problem organisasi yang lebih bersifat mendasar.
Demikianlah esensi
salah satu pendapat yang diungkapkan oleh Richard H. Hall melalui bukunya yang
berjudul Organizations: structure and
process, mengapa perlu dan banyak
terdapat studi tentang kepemimpinan pada masa-masa lalu. Suatu kenyataanya
bahwa di dalam situasi tertentu kepemimpinan dirasakan penting, bahkan amat
penting (critical) .
B.
Rumusan
Masalah
1) Jelaskan
Devinisi Kepemimpinan?
2) Apa
Saja Teori-Teori Kepemimpinan?
3) Apa
Saja Teori Lahirnya Seorang Pemimpin?
4) Jelaskan
Pendekatan Studi Kepemimpinan?
5) Apa
Dan Bagaimana Sifat – Sifat Kepemimpinan?
6) Bagaimana
Sifat Pemimpin Yang Disukai?
7) Bagaimana
Karakteristik Pemimpin?
C.
Tujuan
1) Untuk
Menjelaskan Devinisi Kepemimpinan
2) Untuk
Mengetahui Teori Teori Kepemimpinan
3) Untuk
Mengetahui Teori Lahirnya Seorang Pemimpin
4) Untuk
Mengetahui Studi kepemimpinan
5) Untuk
Mengetahui Sifat-Sifat Kepemimpinan
6) Untuk
Mengetahui Sifat Pemimpin Yang Disukai
7) Untuk
Mengetahui Karakteristik Pemimpin
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi
banyak orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan (Dubrin, 2009: 4). kepemimpinan
adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga
tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama. Pengertian diatas lebih
jelas diketengahkan oleh Ngalim Purwarto
bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, di dalamya
kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinya agar meraka mau serta dapat
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela penuh semangat
dan kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa (Purwanto, 1992: 26).
Kepemimpinan merupakan sebuah
kemampuan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dalam menggerakan seluru
sumber daya organisasi terutama sumber daya manusianya untuk melakukan apa yang
diharapkan. Kemampuan inilah yang akan menentukan bahwa seorang pemimpin
tersebut baik tidaknya (Anwar US, 2011: 16). kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Apabila
dianalisis lebih mendalam lagi akan tergambar bahwa manusia merupakan faktor
penentu sukses atau tidaknya suatu kepemimpinan dalam sebua organisasi. Karena
itu sumber daya manusia ini tidak bisa diabaikan dan tidak bisa diberlakukan
sama dengan sumber daya non-manusia.
kepemimpinan adalah kegiatan untuk
mempengaruhi orang, agar mau mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Sebagian
ahli menganggap bahwa inti manajemen adalah kepemimpinan (Komaruddin, 1994:
475). Proses kepemimpinan dapat terlaksana jika terjadi interaksi dua atau tiga
orang atau lebih, maka disini terdapat faktor perilaku pengaruh dan yang
mempengaruhi dan siapa yang akan bisa menjadi pemimpin. karena memimpin
merupakan suatu tingkatan dalam manajemen yang melakukan fungsih-fungsih
manajemen, pembentukan, perencanaan, pengaturan, pendorong, sistem hubungan dan
pengendalian, kehendak untuk memimpin dan memberikan pengarahan.
Manusia, disamping mahluk individu
juga sebagai mahluk sosia. Sifat alami manusia antara lain saling membutuhkan,
gotong royong, kebersamaan, bermusyawarah, saling ketergantungan antara
satu dengan lainnya. Implementasi
sifat-sifat tersebut, maka diperlukan hubungan atau interaksi baik disuatu
kelompok masyarakat atau organisasi. Kemajuan suatu organisasi diperlukan
seorang sosok pemimpin yang baik diantara mereka, karena memimpin merupakan
komponen yang mengikat satu kesatuan dalam kelompok.
Kepemimpinan merupakan inti dari
manajemen. Apabilah dianalisis lebih mendalam lagi akan tergambar bahwa manusia
merupakan inti dari kepemimpinan , paling tidak untuk masa sekarang. Sumber
daya manusia merupakan faktor penentu sukses atau tidaknya suatu
kepemimpinan dalam sebuah organisasi.
Karena itu sumber daya manusia ini tidak bisa diabaikan dan tidak bisa
diberlakukan sama dengan sumber daya non-manusia. Menurut Suharsimi Arikunto,
dimensi manusia ini merupakan unsur yang harus dipertimbangkan karena dimensi
manusia memiliki beberapa kunci elemen yaitu hubungan keahlian, kreativitas,
fleksibilitas dan orientasi kedepan (Arikunto, 1993: 12). lebih lanjut lagi
dijelaskan bahwa terdapat dimensi lain selain dimensi manusi yaitu dimensi
tugas dan lingkungan. Jadi dimensi manusia, tugas dan lingkungan. Jadi dimensi
manusia, tugas dan lingkungan merupakan penyebab dinamika kepemimpinan yang
digunakan seseorang.
Syaiful Sagala (2006: 145) mengatakan
kepemimpinan adalah suatu pokok dari keinginan manusia yang besar untuk
menggerakan potensi organisasi, kepemimpinan
juga sala satu penjelas yang paling populer Wahab (2008: 83)
mengemukakan mengenai pelaksanaan kepemimpinan, bahwa kepemimpinan berlangsung
di dalam sebuah organisasi yang dalam arti statis merupaksn wadah dalam bentuk suatu struktur organisasi. di
dalam struktur itu terdapat unit-unit kerja
sebagai hasil pekerjaan dengan pengelompokan pekerjaan (tugas-tugas)
sejenis atau serumpun ke dalam satu unit kerja.
Dalam Al-Qur’an kata
pemimpin identik dengan kata khalifah, sebagaimana tercantum dalam surat Al-Baqarah, ayat 30 dan surat
Al-Shad. kata khulafa yang pada mulanya berarti dibelakang, dari
sini kata khalifah sering diartikan
sebagai pengganti (karena yang menggantikan selalu berada dibelakang atau
sesudah yang digantikan), tidak dapat disangkal oleh parah musafir bahwa bentuk
kata tersebut (khalifah, khalaif,khulafa)
masing-masing mempunyai konteks
makna tersendiri yang sedikit atau banyak berbeda dengan yang lain. Dalam hali
ini, M Quraisy Shibab (1999: 56) menafsirkan bahwa kata khalifah digunakan oleh
Al-Qur’an untuk siapa yang diberikan kekuasan mengelolah wilayah, baik luas
maupun terbatas.
B. Teori-Teori
Kepemimpinan
Teori
kepemimpinan yaitu teori genetis dimana menjelaskan bahwa seseorang akan dapat
menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan untuk bisa menjadi pemimpin; dia
telah memiliki bakat dan mempunyai pembawaan untuk bisa menjadi pemimpin.
Menurut teori kepemimpinan seperti teori genetis ini mengasumsikan bahwa tidak
setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya beberapa orang yang memiliki
pembawaan dan bakat saja yang dapat menjadi pemimpin. Hal tersebut memunculkan
“Pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk tapi dilahirkan”.
Teori
kepemimpinan yang kedua yaitu teori sosial yang menyatakan bahwa seseorang akan
dapat menjadi pemimpin karena lingkungannya yang mendukung, keadaan dan waktu
memungkinkan ia bisa menjadi pemimpin. Setiap orang dapat memimpin asal
diberikan kesempatan dan diberikan pembinaan untuk dapat menjadi pemimpin
meskipun ia tidak memiliki pembawaan atau bakat. Adapun istilah dari teori
kepemimpinan sosial ini yaitu pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan.
Teori
kepemimpinan yang ketiga yaitu teori ekologis, dalam teori kepemimpinan
ekologis ini menyatakan bahwa gabungan dari teori genetis dan sosial, dimana
seseorang akan menjadi pemimpin membutuhkan bakat dan bakat tersebut mesti
selalu dibina agar berkembang. Kemungkinan untuk bisa mengembangkan bakat
tersebut itu tergantung dari lingkungannya.
Teori
kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan situasi
ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada dalam
situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam
situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya tersebut
tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan bisa
jadi menjadi pengikut saja.
Oleh karena
itu, jika seorang ingin menjadi pemimpin dan ingin meningkatkan kecakapannya dan
kemampuannya dalam memimpin maka dibutuhkan untuk bisa mengetahui segala ruang
lingkup gaya kepemimpinan yang efektif. Adapun para ahli dalam bidang
kepemimpinan sudah meneliti dan mengembangkan beberapa gaya kepemimpinan yang
berbeda dimana sesuai dengan adanya evolusi dari teori kepemimpinan. Untuk
ruang lingkupnya, gaya kepemimpinan terbagi atas tiga pendekatan yaitu
pendekatan sifat kepribadian pemimpin, dan pendekatan perilaku pemimpin dan
pendekatan situasional atau kontingensi.
C. Teori Lahirnya Seorang Pemimpin
Mengenai
sebab-musabab munculnya pemimpin telah dikemukakan berbagai pandangan dan
pendapat yang mana pendapat tersebut berupa teori yang dapat dibenarkan secara
ilmiah, ilmu pengetahuan atau secara praktek.
Para ahli
teori kepemimpinan telah mengemukakan beberapa teori tentang timbulnya Seorang
Pemimpin. Menurut Sunindhia dan Ninik Widiyanti (1988:18) Dalam hal ini
terdapat 3 (tiga) teori yang menonjol yaitu (1) teori genetik, (2) teori
sosial, (3) teori ekologik.
Menurut
Ordway Tead dalam buku Imam Mujiono (2002: 18) timbulnya seorang pemimpin itu
karena:
1. Membentuk diri sendiri (self constituted leader, self
made man, born leader).
2. Dipilih oleh golongan. Ia menjadi pemimpin karena
jasa-jasanya, karena kecakapannya, keberaniannya dan sebagainya terhadap
organisasi.
3. Ditunjuk dari atas. Ia menjadi pemimpin karena
dipercayai dan disetujui oleh pihak atasan.
Ambarita,
dkk. (2014 : 63) mengatakan bahwa teori kepemimpinan pada umumnya berusaha
untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan
dengan mengemukakan bebebrapa segi antara lain : Latar belakang sejarah
pemimpin dan kepemimpinan, kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban
manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan pada setiap masa. Selanjutnya
Ambarita, dkk. (2014 : 64) menjelaskan ada tiga teori kepemimpinan, yaitu (1)
teori sifat, (2) teori perilaku, (3) teori situasional.
Hal-hal yang
menyebabkan seseorang menjadi pemimpin (Suwatno dan Priansa 2011) adalah
sebagai berikut:
1. Tradisi/warisan: seseorang menjadi pemimpin, karena
warisan/ keturunan, misalnya raja atau ratu Inggris, dan Belanda.
2. Kekuatan pribadi baik karena alasan fisik maupun karma
kecakaparmya.
3. Pengangkatan atasan: seseorang menjadi pemimpin,
karena diangkat oleh pihak atasannya.
4. Pemilihan: seseorang menjadi pemimpin, karena
berdasarkan konsep penerimaan/ acceptance theory) anda menjadi pemimpin dan
kami akan menaati instruksi anda.
Berdasarkan
pendapat para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya, maka munculnya pemimpin
dapat dijelaskan dalam beberapa teori-teori sebagai berikut:
1. Teori Great
Man
Anda mungkin
pernah mendengar bahwa ada orang-orang tertentu yang memang "dilahirkan
untuk memimpin". Menurut teori ini, seorang pemimpin besar dilahirkan
dengan karakteristik tertentu seperti karisma, keyakinan, kecerdasan dan
keterampilan sosial yang membuatnya terlahir sebagai pemimpin alami.
Teori great
man mengasumsikan bahwa kapasitas untuk memimpin adalah sesuatu yang melekat,
pemimpin besar dilahirkan bukan dibuat. Teori ini menggambarkan seorang
pemimpin yang heroik dan ditakdirkan untuk menjadi pemimpin karena kondisi
sudah membutuhkannya.
1. Teori Sifat (Trait Theory)
Teori sifat
berasumsi bahwa orang mewarisi sifat dan ciri-ciri tertentu yang membuat mereka
lebih cocok untuk menjadi pemimpin. Teori sifat mengidentifikasi kepribadian
tertentu atau karakteristik perilaku yang sama pada umumnya pemimpin. Sebagai
contoh, ciri-ciri seperti ekstraversi, kepercayaan diri dan keberanian,
semuanya adalah sifat potensial yang bisa dikaitkan dengan pemimpin besar.
Jika
ciri-ciri khusus adalah fitur kunci dari kepemimpinan, maka bagaimana
menjelaskan orang-orang yang memiliki kualitas-kualitas tetapi bukan pemimpin?
Pertanyaan ini adalah salah satu kesulitan dalam menggunakan teori sifat untuk
menjelaskan kepemimpinan. Ada banyak orang yang memiliki ciri-ciri kepribadian
yang terkait dengan kepemimpinan namun tidak pernah mencari posisi
kepemimpinan.
Teori ini
bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan
oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas
dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang
pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin.
Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai
sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki
pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
a. pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat,
rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas,
orientasi masa depan.
b. sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang
tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang
antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integrative.
c. kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik,
menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting,
keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun
teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain: terlalu bersifat
deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan
efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun
apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya
mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin, justru sangat
diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
2. Teori Perilaku (Behavioral Theory)
Teori
perilaku disebut juga dengan teori sosial dan merupakan sanggahan terhadap teori
genetis. Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan dibentuk tidak dilahirkan
begitu saja (leaders are made, not born). Setiap orang bisa menjadi pemimpin,
melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta dorongan oleh kemauan sendiri.
Teori ini tidak menekankan pada sifat-sifat atau kualitas yang harus dimiliki
seorang pemimpin tetapi memusatkan pada bagaimana cara aktual pemimpin
berperilaku dalam mempengaruhi orang lain dan hal ini dipengaruhi oleh gaya
kepemimpinan masing-masing.
Dasar
pemikiran pada teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian
tujuan. Teori ini memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola
tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) soerang pemimpin. Alasannya
sifat seseorang relatif sukar untuk diidentifikasikan.
Beberapa
pandangan para ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan bahwa perilaku
dapat dipelajari. Hal ini berarti bahwa orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan
yang tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun demikian hasil penelitian
telah membuktikan bahwa perilaku kepemimpinan yang cocok dalam satu situasi
belum tentu sesuai dengan situasi yang lain. Akan tetapi, perilaku kepemimpinan
ini keefektifannya bergantung pada banyak variabel.
Robert F.
Bales (Stoner, 1986) mengemukakan hasil pemelitian, bahwa kebanyakan kelompok
yang efektif mempunyai bentuk kepemimpinan terbagi (shared leadership),
seumpama satu oramg menjalankan fungsi tugas dan anggota lainnya melaksanakan
fungsi sosial. Pembagian fungsi ini karena seseorang perhatian akan terfokus
pada satu peran dan mengorbankan peran lainnya.
3. Teori Situasional
Konsep teori
situasional adalah bahwa kepemimpinan seseorang muncul sejalan dengan situasi atau
lingkungan yang mengelilingnya. Pada saat tertentu seseorang berfungsi sebagai
pemimpin. Pada saat lain sebagai manusia yang dipimpin. Bakat dan kemampuan
seseorang dapat mewujud hanya pada situasi tertentu. Teori ini adalah sintesis
dari teori keturunan yang mengatakan bahwa bakat adalah faktor dominan dan
teori kejiwaan yang berasumsi bahwa seseorang dapat menjadi pimpinan jika
dibekali pengetahuan dan sejumlah pengalaman yang memadai.
Contoh lain,
seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan A sukses memimpin organisasi
dengan kegiatan pokok B. Jika suatu saat dialihtugskan ke organisasi lain
dengan kegiatan pokok C, kinerjanya mungkin tidak efektif. Efektivitas
kepemimpinan menurut teori situasi dipengaruhi beberapa hal, yaitu: (1) faktor
manusia yang dipimpin, (2) fasilitas yang digunakan (3) jenis kegiatan
organisasi, (4) misi organisasi, dan (5) situasi lain yang mengitarinya.
4. Teori Kontigensi atau Teori Tiga Dimensi
Penganut
teori ini berpendapat bahwa, ada 3 (tiga) faktor yang turut berperan dalam
proses perkembangan seseorang menjadi pemimpin atau tidak, yaitu:
1) Bakat
kepemimpinan yang dimilikinya.
2)
Pengalaman pendidikan, latihan kepemimpinan yang pernah diperolehnya.
3) Kegiatan
sendiri untuk mengembangkan bakat kepemimpinan tersebut.
Teori ini
disebut dengan teori serba kemungkinan dan bukan sesuatu yang pasti, artinya
seseorang dapat menjadi pemimpin jika memiliki bakat, lingkungan yang
membentuknya, kesempatan dan kepribadian, motivasi dan minat yang memungkinkan
untuk menjadi pemimpin.
Mengenai
persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan
kemampuan. Berdasarkan uraian di atas, maka teori lahirnya seorang pemimpin
diantaranya sebagai berikut :
1) Teori "enetis Seorang pemimpin lahir bukan karena
melaui proses yang memerlukan waktu yang lama, tetapi dia lahir menjadi
pemimpin oleh bakat-bakatyang luar biasa sejak lahirnya. Dalam dirinya mengalir
bakat-bakat dariorang tuanya maupun nenek moyang yang juga seorang pemimpin.
Dia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi
tertentu.Pemimpin yang lahir dari Faktor genetis, biasanya memiliki
kemampuanyang luar biasa yang nampak sejak kecil.
2) Teori Sosial Lebih menekan bahwa seorang pemimpin
dapat disiapkan, dididik, dibentuk dan tidak dilahirkan begitu saja. Pemimpin
menurut teori ini,dilahirkan melalui proses pendidikan, pelatihan, penyiapan
untuk siap menjadi pemimpin. Ada yang berpendapat bahwa setiap orang akan dapat
menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3) Teori Ekologis Bila sejak lahirnya dia telah memiliki
bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui
pengalaman dan usaha pendidikan, juga sesuai dengan tuntutan ekologis
lingkungannya.
Disamping
teori yang sudah lama berkembang diatas terdapat teori-teori kepemimpinan yang
mungkin sesuai perkembangan kemajuan perilaku dan budaya serta kebutuhan hidup
rakyat memunculkan teori-teori sebagai berikut :
Teori Orang
Kaya /Financial theory-Seseorang dapat muncul menjadi pemimpin dengan sangat tiba-tiba
karena dipilih oleh anggota masyarakat untuk menjadi pemimpin karena mempunyai
banyak uang, sehingga mampu membeli suara anggota organisasinya dan atau
masyarakat dalam suatu pemilihan. Teori ini muncul dalam ketatanegaraan
indonesia di era pemilihan.
Hakekatnya
pemimpin yang DILAHIRKAN dengan pemimpin yang DICIPTAKAN tidak sama. Pemimpin
yang dilahirkan tidak memerlukan butuh pendidikan tinggi. Tidak berarti mereka
anti pendidikan. Kadang mereka sudah memiliki 'pengetahuan' alamiah, sentuhan
pengetahuan di luarnya hanya merupakan stimulus saja. Ada antara mereka yang
rajin membaca, juga ada yang menulis, bahkan ada yang tidak memiliki
kedua-duanya. Tetapi gagasan mereka mengalir seperti air karena mereka mampu
menggunakan seluruh inderanya. Pemimpin yang DILAHIRKAN memiliki idealisme yang
tinggi dan kuat. Tindakan dan keputusan untuk orang banyak. Ia jarang
memikirkan kekayaan bagi diri dan keluarganya. Kebanggaan ia adalah terealisasi
idealismenya. Itulah kepuasaan bathinnya. Pemimpin yang DILAHIRKAN selalu unik,
segala tindak-tanduknya alami dan kerap mecengangkan bagi banyak kalangan.
'Rada aneh', lain daripada yang lain. Tetapi mereka dicintai rakyat atau umat
yang dipimpinnya. Sedangkan pemimpin yang diciptakan merupakan pemimpin yang
merupakan hasil pembentukan di lembaga pendidikan baik formal maupun non
formal. Pemimpin tipe ini mudah rapuh. Pengetahuan dan ketrampilan tidak cukup
kuat untuk menjadikan pemimpin yang sejati. Ia gampang goyah karena tidak
memiliki prinsip dan ideologis yang tangguh. Karena dasarnya ia tidak
DILAHIRKAN menjadi pemimpin. Banyak pemimpin tipe ini yang lebih banyak
mencoba-coba. Mereka mencoba karena adanya peluang dan jabatan politik tertentu
sehingga memungkinkan mereka menjadi pemimpin. Proses menjadi pemimpin pun
lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan 'bargaining' bukan kualitas
kepemimpinannya. Pemimpin yang DICIPTAKAN tidak berarti tidak mampu memimpin.
Mereka mampu memimpin, kecuali jika memperkuat prinsip dan ideologis yang kokoh
terutama perjuangannya untuk kepentingan rakyat banyak. Bukan kepentingan diri,
kelompok, dan suporter politisnya. Ia harus mampu menegakan hukum dan
menjalankan roda kepemimpinan melalui rel hukum. Pemimpin yang DILAHIRKAN dan
pemimpin yang DICIPTAKAN menampilkan dua sisi yang berbeda. Tipikal pertama
lebih natural, sedangkan yang kedua cenderung tekstual. Jokowi dan Paus
Fransiskus, contoh tokoh masa kini yang memang telah DILAHIRKAN menjadi
pemimpin. Mereka memiliki bakat dan energi kepemimpinan. Alur kepemimpinannya
fleksibel, konsisten pada penegakan hukum tetapi lembut dalam pendekatan yang
manusiawi. Karena itu ia menjadi sosok yang populis. Mereka menjadi pembeda
dengan para pemimpin pada umumnya. Pemimpin yang DILAHIRKAN adalah pemimpin
yang tidak memunafikan diri. Ia apa adanya dan kadang 'tidak ada apa-apanya' di
hadapan lawannya, namun dekat di hati rakyat atau umatnya. Ketika kita
merindukan Soekarno atau mengarahkan semua pemimpin dalam negeri untuk
meneladani Jokowi atau merindukan sosok Paus Fransiskus, sejatinya ungkapan
kerinduan kita akan LAHIRNYA sosok yang menjadi pemimpin, bukan sosok yang
DICIPTAKAN menjadi pemimpin.
5. Teori Atribut Kepemimpinan
Teori atribut kepemimpinan mengemukakan bahwa
kepemimpinan semata-mata merupakan suatu atribusi yang di buat orang atau seorang
pemimpin mengenai individu-individu lain yang menjadi bawahannya.
Beberapa teori
atribusi yang hingga saat ini maih diakui oleh banyak masyarakat, yang sebagai
berikut.
1. teori penyimpulan terkait ( corespondensi inference ),
yakni perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya.
2. Teori sumber perhatian dalam kesadaran bahwa proses
presepi terjadi dalamkognisi orang yang melakukan presepsi (pengamatan).
3. Teori atribusi internal dan eksternal dikemukakan oleh
Kelly & Micella, 1980 merupakan teori yang befokus pada akal sehat.
6. Kepemimpinan Karismatik
Karisma merupakan sebuah atribusi
yang berasal dari proses interaktif antara pemimpin dan para pengikut.
atribut-atribut karisma antara lain adalah rasa percaya diri, keyakinan yang
kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara, dan yang lebih penting adalah bahwa
atribut-atribut dan visi pemimpin tersebut relevan dengan kebutuhan para
pengikut.
berbagi teori tentang kepemimpinan
karismatik telah dibahas dalam kegiatan beelajar ini. Teori karismatik dari
house menekankan pada identifikasi pribadi, pebangkitan motivasi oleh pemimpin,
dan pengaruh pemimpin terhadap tujuan-tujuan dari rasa percaya diri para
pengikut . Teori atribusi tentang karisma lebih menekankan pada identiikasi
pribadi sebagai proses utama memengaruhi dan internalisasi sebagai proses
sekunder.
teori konsepsi diri sendiri
menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial, dan pengaruh pemimpin
terhadap kemampuandiri dengan hanya memberi peran yang sedikit terhadap identifikasi pribadi. sementara itu, tori
penularan sosial menjelaskan bahwa perilaku para pengikut di pengaruhi oleh
pemimpin tersebut mungkin melalui identifikasi pribadi dan para pengikut
lainnyadipengaruhi melalui proses penularan sosial. Pada sisi lain, penjelasan
psikoanalisis tentang karisma memberikan kejelasan kepada kita bahwa pengaruh
dari pemimpin berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpn tersebut.
karisma merupakan sebagai fenomena.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin karismatik
untuk merutinisi karisma walaupun sukar untk dilaksanan. kepemimpinan
karismatik memiliki dampak positif maupun negatif terhadap para pengikut dan
organisasi.
7. Kepemimpinan Transformasional
pemimpin transformasi mencoba
menimbulkan kesadaran para pengikut dengan mengarahkannya pada cita-cita dan
nilai-nilai moral yang lebih tinggi. Burns dan Bass telah menjelaskan
kepemimpinan transformasional dalam organisasi dan membedakannya dari
kepemimpinan karismatik dan transaksional.
pemimpin transformasional membuat
para pengikut menjadi lebih peka terhadap nilai dan pentingnya pekerjaan,
mengaktifkan kbutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi, dan menyebabkan
para pengikut lebih mementingkan organisasi. Hasilnya adalah para pengikut
merasa adanya kepercayaan dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut, serta
tarmotifasi untuk melakukan sesuatu dari yang diharapkan darinya. efek-efek
transformasional dicapai dengan menggunakan karisma, kepemimpinan
inspirasional, perhatian yang diindividualisasi, serta stimulasi intelektual.
hasil penelitian Bennis dan Nanus,
Tichy dan Devanna telah memberikan suatu kejelasan tentang cara pemimpin
transformasional mengubah budaya dan pemimpin transformasional mengubah budaya dan strategi-strategi sebuah
organisasi. pada umumnya, para pemimpin transformasional memformulasikan sebuah
visi, mengembangkan sebuah komitme terhadapnya, melaksanakan strategi-strategi
untuk mencapai visi tersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.
pada tahun 60-an, kajian-kajian
kepemimpinan telah berkembang dikalangan para ilmuan perilaku, yang secara
khusus mendalaminya cenderung memahami kepemimpinan dalam konteks perilaku
pemimpin yang kaku.
kecenderungan untuk memahami
kepemimpinan secara organik; kepemimpinan seperti mesinis mengabaikan sisi
sosial budaya dari organisasi; mengabaikan budaya yang tidak tampak. dari
sinilah lahir pemahaman bahwa seorang pemimpin yang kuat sangat disyaratkan
dalam sistem birokrasi ketat dan kaku sehingga penekanan kepemimpinan selalu
berada pada sikap pemimpin yang kaku dalam memengaruhi anggota organisasi.
dewasa ini muncul pengertian tentang
kepemimpinan bahwa dalam sejumlah kajian, kepemimpinan memiliki muatan sosial
budaya yang lebih kuat. Hal ini di dasari oleh kuatnya pencitraan sosiologis
terhadap organisasi sehingga ia dilihat sebagaisistem sosial yang memiliki
dimensi sosial budaya.
kepemimpinan pun tidak lagi dipahami
secara organik, tetapi ia merupakandimensi organisasi yang mempunyai kontribusi
untuk membangun budaya organisasi yang sehat.
Ownes (1991 :132) menegaskan
kepemimpinan merupakan dimensi hubungan sosial dalam organisasi dalam rangka
memberiakn pengaruh antara individu atau kelompok melalui interaksi sosial.
kepemimpinan dalam organisasi secara
khusus mempunyai penekanan pada pentingnya posisi kepemimpinan untuk
meningkatkan kualitas dan efektifitas organisasi.
Dalam hubungan ini dapat dikemukakan
beberapa teori kepemimpinan sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli.
A. Teori Timbulnya Kepemimpinan
Di
antara berbagai teori yang menjelaskan sebab-sebab timbulnya kepemimpinan
terdapat tiga teori yang menonjol, yaitu :
1. Teori Keturunan (Heriditary Theory)
2. Teori Kejiwaan (Psychological Theory)
3. Teori Lingkungan (Ecological Theory)
Masing
– masing teori dapat dikemukakan secara singkat :
1. Teori Keturunan
Inti
daripada teori ini, ialah :
a. Leaders are born not made.
b. Seorang pemimpin menjadi pemimpin
karena bakat – bakat yang dimiliki sejak dalam kandungan.
c. Seorang pemimpin lahir karena memamng
ditakdirkan. Dalam situasi apapun tetap muncul menjadi pemimpin karena bakat-bakatnya.
2. Teori Kejiwaan.
a. Leaders are made and not born.
b. Merupakan kebalikan atau lawan dari
teori keturunan.
c. Setiap orang bias menjadi pemimpin
melalui proses pendidikan dan pengalaman yang cukup.
3. Teori Ekologis
a. Timbul sebagai reaksi terhadap teori
genetis dan teori social.
b. Seseorang hanya akan berhasil menjadi
seorang pemimpin, apabila pada waktu lahir telah memiliki bakat, dan bakat
tersebut kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur dan
pengalaman.
c. Teori ini memanfaatkan segi-segi
positif teori genetis dan teori social.
d. Teori yang mendekati kebenaran.
B. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Sifat
Di
tinjau dari segi sejarah, pemimpin atau kepemimpinan lahir sejak nenek moyang,
sejak terjadinya hubungan kerjasama atau usaha bersama antara manusia yang satu
dengan dengan manusia yang lain untuk menjapai tujuan bersama yang telah
ditetapkan. Jadi kepemimpinan lahir bersama – sama timbulnya peradaban manusia.
·
Machiavelli
Ia
terkenal tentang nasehatnya mengenai kebijaksanaan yang harus dimiliki oleh
seorang Perdana Mentri, yaitu antara lain harus mempunyai keahlian dalam :
a. Upacara – upacara ritual, kebaktian
keagamaan
b. Peratuaran dan perundang – undangan
c. Pemindahan dan pengangkutan
d. Pemberian honorium/pembayaran dan
kepangkatan
e. Upacara – upacara dan adat kebiasaan.
f. Pemindahan pegawai untuk menhindarkan
kegagalan
g. Bertani dan pekerjaan lainnya.
·
Empuh
Prapanca dengan bukunya yang terkenal Negara Kertagama menyebut 15 sifat yang
baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu:
a. Wijana, sikap bijaksana
b. Mantri wira, sebagai pembela negara
sejati
c. Wicaksaning naya, bijaksana dalam arti
melihat masa lalu, kemampuan analisa, mengambil keputusan dengan cepat dan
tepat.
d. Matanggwan, mendapat kepercayaan yang
tinggi dari yang dipimpinnya.
e. Satya bakti haprabu, setia dan bakati
kepada atasan (loyalitas).
f. Wakjana, pandai berpidato dan
berdiplomasi.
g. Sajjawopasama, tidak sombong, rendah
hati, manusiawi.
h. Dhirrottsaha, bersifat rajin sungguh-
sungguh kreatif dan penuh inisiatif.
i. Tan-lalana, bersifat gembira, periang.
j. Disyacitra, Jujur terbuka.
k. Tancatrisan, tidak egoistis.
l. Masihi Samastha Bhuwana, bersifat
penyayang, cinta alam.
m. Ginong Pratidina, tekun menegakkan
kebenaran.
n. Sumantri, sebagai abdi negara yang
baik.
o. Ansyaken musuh, mampuh memusnakan
setiap lawan.
·
Ajaran
Hasta Brata.
Hasta
Bhrata (delapan pedoman pilihan) yang terdapat dalam kitab Ramayana berisi
sifat - sifat positif sebagai pedoman bagi setiap pemimpin adalah :
a. Sifat matahari (surya) Yaitu:
-
Menerangi dunia dan memberi kehidupan pada semua mahluk.
-
Menjadi penerang selurah rakyat.
-
Jujur dan rajin bekerja sehingga negara aman dan sentosa.
b. Sifat bulan (candra) yaitu:
-
Memberi penerangan terhadap rakyat yang sedang dalam kegelapan (kesulitan)
-
Menerangkan perasaan dan melindungi rakyat sehingga terasa tentram untuk
menjalankan tugas masing- masing.
c. Sifat Bintang (kartika) yaitu:
-
Menjadi pusat pandangan sumber susila dan budaya, dan menjadi suri tauladan
d. Sifat Awan yaitu :
-
Dapat menciptakan kewibawaan
-
Tindakan mendorong agar rakyat tetap taat.
e. Sifat Bumi yaitu:
-
Ucapanya sederhana.
-
Teguh, dan kokoh pendiriannya.
f. Sifat Samudera,yaitu:
-
mempunyai pandangan yang luas
-
membuat rakyat seia sekata.
g. Sifat Api (Agni) yaitu:
-
Menghukum siapa saja yang bersalah tanpa pandang bulu.
h. Sifat Angin (Bayu) yaitu :
-
terbuka dan tidak ragu – ragu terhadap semua masalah.
-
Bersikap adil terhadap siapa pun.
·
The
Traits and abilities Theory yang dikemukakan oleh stogdill dengan menekan pada
kwalitas individu dan terdapat relevansi yang erat antara sifat dan
kepemimpinan (capacity, status, participation, responsibility,achievement).
C. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Tingkah
Laku
Dengan
memusatkan pada ciri-ciri dan gaya yang dimiliki oleh setiap pemimpin yang
bersangkutan, mereka yakin akan berhasil dalam melaksanakan tugas
kepemimpinannya. Sehingga gaya dan ciri-ciri tersebut akan menimbulkan berbagai
tipe.
Ada
beberapa tipe kepemimpinan.
1. Tipe Otoriter
Tipe
ini mempunyai sifat-sifat:
a. Semua kebijaksanaan ditentukan oleh
pemimpin
b. Organisasi dianggap milik pribadi
pemimpin
c. Segala tugas dan pelaksanaannya
ditentukan oleh pemimpin .
d. Kurang ada partisipasi dari bawahan .
e. Tidak menerima kritik, saran dan
pendapat bawahan .
2.
Tipe Demokratis
a. Semua kebijaksanaan dan keputusan
dilakukan sebagai hasil diskusi dan musyawarah .
b. Kebijaksanaan yang akan dating
ditentukan melalui musyawarah dan diskusi.
c. Anggota kelompok, bebas bekerjasama
dengan anggota yang lain, dan berbagai tugas diserahkan kepada kelompok .
d. Kritik dan pujian bersifat objektif
dan berdasarkan fakta-fakta .
e. Pemimpin ikut berpartisipasi dalam
kegiatan sebagai anggota biasa
f. Mengutamakan kerjasama .
3.
Tipe Semuanya
a. Kebebasan diberikan sepenuhnya kepada
kelompok atau perseorangan di dalam pengambilan kebijaksanaan maupun keputusan.
b. Pemimpin tidak terlibat dalam
musyawarah kerja .
c. Kerjasama antara anggota tanpa campur
tangan pemimpin .
d. Tidak ada kritik, pujian atau usaha
mengatur kegiatan pemimpin .
Di
samping ketiga gaya kepemimpinan diatas Sondang P.Siagian, MPA.,Ph.D.
mengemukakan tipe pemimpin yang lain, ialah:
4.
Tipe Militeristis
a. Lebih sering mempergunakan perintah
terhadap bawahan .
b. Perintah terhadap bawahan sangat
tergantung pada pangkat dan jabatan .
c. Menyenangi hal-hal yang bersifat
formal .
d. Sukar menerima kritik .
e. Menggemari berbagai upacara
5. Tipe Paternalistik
a. Bersikap melindungi bawahan .
b. Bawahan dianggap manusia yang belum
dewasa .
c. Jarang ada kesempatan pada bawahan
untuk mengambil inisiatif .
d. Bersikap maha tahu .
6. Tipe Karismatis
a. Mempunyai daya tarik yang besar, oleh
karenanya mempunyai pengikut yang besar .
b. Daya tarik yang besar tersebut
kemungkinan disebabkan adanya kekuatan gaib (supernature) .
Disamping teori yang
telah dikemukakan diatas, ada teori lain yang Dikemukakan oleh W.J. Reddin
dalam artikelnya yang berjudul “What Kind of Manager”.
Ada tiga pola dasar
yang dapat dipakai untuk menentukan watak atau tipe seorang pemimpin. Ketiga
pola dasar tersebut :
1.Berorientasi tugas (task orientation).
2.Berorientasi pada hubungan kerja
(Relationship orientation).
3.Berorientasi pada hasil (effectiveness
orientation).
Berdasarkan
sedikit banyaknya orientasi atau penekanan ketiga hal diatas pada diri seorang
pemimpin akan dapat ditentukan delapan tipe pemimpin masing-masing ialah:
1.Deserter
2.Bureaucrat
3.Missionary
4.Developer
5.Autocrat
6.Benevolent autocrat
7.Compromiser
8.Executive
D. Pendekatan Studi Kepemimpinan
Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan kedalam empat
macam pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan menurut pengaruh kewibawaan (power
influence approach)
Pendekatan ini mengatakan bahwa keberhasilan pemimpin dipandang dari segi
sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada para pemimpin, dan
dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan tersebut kepada
bawahan.
Pendekatan ini menekankan sifat timbal balik, proses saling mempengaruhi
dan pentingnya pertukaran hubungan kerja sama antara para pemimpin dengan
bawahan.[25]
2. Pendekatan sifat (trait approach)
Keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau
dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang
pemimpin.Sifat-sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan dan keturunan.[26]Jadi, seseorang menjadi pemimpin karena
sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.Banyak
ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat-sifat
baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat sukses dalam
kepemimpinannya. Ghizeli dan Stogdil misalnya mengemukakan adanya lima sifat
yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu: kecerdasan, kemampuan mengawasi,
inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian.Seain itu, dari hasil studi pada
tahun 1920-1950,diperoleh kesimpulan adanya tiga macam sifat pribadi seorang
pemimpin meliputi ciri-ciri fisik, kepribadian, dan kemampuan atau kecakapan.
Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan pendekatan sifat,
keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi,
melainkan ditentukan pula oleh kecakapan atau keterampilan (skills)
pribadi pemimpin.[27]
3. Pendekatan perilaku (behaviour approach)
Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa
keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya
kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin. Sikap dan gaya kepemimpinan itu
tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu
memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara
mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara
membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat
anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya.[28]
4. Pendekatan situasional (situational approach)
Pendekatan situasional biasa disebut dengan pendekatan kontingensi.Pendekatan
ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi
atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan
sifat-sifat pemimpin saja.Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri
khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenispun akan menghadapi
masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat, watak dan
situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang
berbeda pula.
Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan antara lain:
sifat pribadi pemimpin, sifat pribadi bawahan, sifat pribadi sesama pemimpin,
struktur organisasi, tujuan organisasi, motivasi kerja, harapan pemimpin maupun
bawahan, pengalaman pemimpin maupun bawahan, adat, kebiasaan, budaya lingkungan
kerja dan lain sebagainya.[29]
Pendekatan kontingensi menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan
situasi.Teori ini bukan hanya penting bagi kompleksitas yang bersifat
interaktif dan fenomena kepemimpinan tetapi turut membantu para pemimpin yang
potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang
bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat
berdasarkan situasi.[30]
E.
Sifat-Sifat Kepemimpinan
Upaya untuk
menilai sukses tidaknya pemimpin itu dilakukan antara lain dengan mengamati dan
mencatat sifat-sifat dan kualitas atau mutu perilakunya, yang dipakai sebagai
kriteria untuk menilai kepemimpinannya
Edwin Ghiselli mengemukakan 6 (enam) sifat
kepemimpinan, yaitu :
1) Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas
(supervisory ability) atau pelaksana fungsi-fungsi dasar manajeme.
2) Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup
pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses.
3) Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif, dan
daya pikir.
4) Ketegasan, atau kemampuan untuk membuat
keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
5) Kepercayaan diri, atau pandangan pada diri sehingga
mampu menghadapi masalah.
6) Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak
tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menentukan cara-cara baru
atau inovasi.
Ada beberapa
hal penting yang harus diperhatikan yaitu, keinginan pemimpin, pemimpin
mempunyai kehendak yang kuat untuk mempengaruhi dan memimpin orang lain. Mereka
menunjukkan kemauan mengemban tanggung jawab.
1. Kejujuran dan integritas, pemimpin membangun hubungan
saling mempercayai antara meraka sendiri dan pengikutnya dengan menjadi jujur
dan tidak menipu dan menunjukan konsistensi yang tinggi antara perkataan dan
perbuatan.
2. Kepercayaan diri, para pengikut melihat pemimpinnya
tidak meragukannya sebagai pemimpin. Jadi, pemimpin perlu menunjukan
kepercayaan diri untuk meyakinkan pengikutnya tentang kebenaran sasaran dan
keputusannya.
3. Kecerdasan, pemimpin haruslah cukup cerdas untuk
mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan banyak informasi, dan mereka harus
mampu menciptakan visi, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang tepat.
4. Pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan, pemimpin
yang efektif mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi tentang organisasi yang
dipimpinnya. Pengetahuan yang mendalam membuat pemimpin dapat membuat keputusan
yang terinformasi dengan baik dan memahami akibat dari keputusan itu.
Kepemimpinan yang efektif tidak dapat tercapai tanpa inisiatif dan kerja sama
anggota organisasi. Pemimpin membutuhkan sentuhan, empati, dan perlu berada
ditengah-tengah bawahannya.
Seorang
pemimpin seharusnya menjadi bagian dari “apa yang terjadi” bukan terpisah dari
“apa yang terjadi”. Hal ini menunjukan bahwa pemimpin itu bekerja tidak
sendirian, dia mempunyai lingkungan yang setiap saat diperlukan untuk
berinteraksi. Lingkungan itu luas, dan beraneka macamnya, dan masing-masing
pemimpin mempunyai lingkungan yang berlainan, tetapi peranan yang dimainkan pada
hakekatnya tidak ada perbedaan.
Perilaku
pemimpin dipengaruhi oleh sifat pemimpin, yang mencakup kemampuan, kepribadian
dan motivasi. Sifat pemimpin ini akan mempengaruhi perilaku pemimpin, yaitu
orientasi tugas, orientasi manusia, struktur inisiasi, konsiderasi,
transaksional, transformasional, dan prima.
Variabel
situasional berupa kebutuhan pengikut, struktur tugas dan sebagainya
berpengaruh secara timbal-balik dengan perilaku pemimpin. Perilaku pemimpin dan
variabel situasional secara bersama-sama akan mempengaruhi efektifitas
organisasi.
F. Sifat Yang Membuat Pemimpin Disukai
Bagaimana
sebuah tim akan solid jika pemimpin tak disukai pengikutnya dan integritasnya,
rendah? Padahal keberhasilan sebuah tim meraih target tergantung dari kemampuan
pemimpin memberdayakan timnya. Karenanya pernimpin harus menjadi figur yang
disukai dan menjadi teladan.
Lihatlah
realita di sekitar kita. Posisi pemimpin menjadi rebutan. Segalanya
dipertaruhkan, bahkan sampai “sikut sana, sikut sini”. Akhirnya ketika sudah
menduduki posisi pemimpin, popularitas dan materilah yang ia kejar, bukan
kewajiban sebagai pemimpin yang ia jalankan. Hubungan pemimpin dan pengikut pun
sekadar formalitas yang kaku.
Pemimpin
sejati adalah pemimpin yang baik dalam memimpin diri sendiri, serta memimpin
(baca: melayani) keluarga, tim kerja dan masyarakat. Paling tidak ada 15 sikap
pemimpin yang disukai orang. Mulai dari hati, pikiran, perkataan hingga
tindakan seorang pemimpin yang patut diteladani oleh setiap anggota tim,
bukannya sekadar menjadi bahan diskusi atau teori.
1) lkhlas. Pemimpin yang ikhlas akan dekat di hati
orang-orang yang dipimpinnya. la mendasari kepemimpinannya dengan rasa
mencintai sesamanya serta sarana beribadah kepada Tuhan. Keikhlasan hatinya
membuat ia tegar terhadap segala ujian. la tidak mengharapkan pujian,
mengabaikan cacian, tidak pernah dendam. la menjalankan kewajibannya yaitu
melayani orang-orang yang dipimpinnya. Orang pun ikhlas dipimpin oleh pernimpin
seperti ini.
2) Amanah & tanggung jawab. Pemimpin yang amanah dan
bertanggung jawab menyebabkan hak-hak semua anggota tim ditunaikan dengan baik.
Rakyat akan mencintai pernimpin seperti ini.
3) Teguh pendirian. Pemimpin harus teguh pada kebenaran
yang sesuai norma agama dan hukum masyarakat, Pemimpin tetap profesional dan
tak tergelincir pada masalah KKN yang marak dewasa ini. Bukan hanya korupsinya,
tapi juga kolusi dan repotisme.
4) Sabar. Sikap ini selalu menguntungkan, tidak ada kata
ruginya sama sekali. Berhadapan dengan berbagai ragam karakter orang yang harus
dilayani menuntut kesabaran yang tinggi. Pemimpin yang penyabar mampu menangani
setiap permasalahan dengan rasional.
5) Tidak sombong. Sifat ini dicintai Tuhan, disukai
manusia, Pemimpin mestinya tidak tabu terhadap kritik, tidak gila hormat dan
pujian. la tidak menerapkan prinsip aji mumpung, mumpung punya kuasa.
6) Berkata benar. Pemimpin yang tetap berkata benar walau
dalam apa pun juga keadaannya. Orang yang jujur disukai (disegani) kawan dan
lawan. Sekali berbohong, akan berbuntut kebohongan lainnya, sehingga akhirnya
ia tidak akan mendapat kepercayaan dari orang Iain.
7) Cinta ilmu. Ilmu pengetahuan merupakan tonggak
kepimpinan. Formalitas dunia bisnis masih mensyaratkan ijazah sebagai pengukur
keilmuan seseorang. Karenanya pemimpin perlu terus mengasah dirinya dengan Imu,
sesuai bidang atau umum. Namun yang lebih penting sebenarnya ialah buah kepada
Imu yang dipelajari dalam bentuk keterampilan dan pengalaman.
8) Mahir berkomunikasi. Pemimpin harus mahir menggunakan
bahasa untuk menimbulkan kesan positif atas hubungan khususnya antara pemimpin
dan individu yang dipimpinnya. Bahasa komunikasi yang baik bisa membuat seorang
pemimpin dipandang menarik walaupun mungkin penampilannya kurang menarik. Kala
menghukum/mengritik nada bicaranya tidak terasa pedas dan menyakitkan, bahkan
justru bisa mendorong semangat anak buahnya untuk memperbaiki diri. Pujiannya
juga pas dan tulus.
9) Tepat janji. Jika sudah berjanji, sekecil apa pun itu,
penting bagi seorang pemimpin untuk menepatinya agar semakin dipercayai dan
disukai. Orang tidak akan ragu-ragu untuk terus memberi mandat kepada pemimpin
yang selalu menepati janji. Pemimpin yang menabur janji-janji kosong akan
membuat anggota tim kecewa dan memandang pemimpinnya tidak lagi punya
integritas yang tinggi.
10) Berhati-hati.
Berhati-hati dalam membuat keputusan atau berbicara menjadikan seseorang
pemimpin dihormati. la selalu bertindak berdasarkan norma atau pemikiran yang
jelas, serta menjauhi perkara yang meragukan (di wilayah abu-abu). Sikap ini
disukai orang karena menunjukkan pemimpin tidak mudah dipengaruhi oleh
pihak-pihak yang punya maksud terselubung.
G. Karakteristik
Dan Peran Kepemimpinan
menurut
teori situasional pemimpin yanga paling otokratik sekalipun akan mengubah
gayakepemimpinan yang otokratik itu dengan gaya lain, jika situasi
tertentu menuntutnya, karena apabila
konsisten terhadap gaya otokratik akan membahayakan kedudukanya sebagai
pemimpin. Demi berlangsung kepemimpinannya tidak punya pilihan lain kecuali
melakukan penyesuaian yang dituntut oleh situasi yang dihadapinya. Sebaliknya
pemimpin yang demokratik mungkin saja bertindak otoriter apabila situasinya
menghendakinya.
Mar’at
(2004: 2) menyatakan karakteristik kepemimpinan harus memenuhi syarat; keadaan
fisik yangkondisional, kecerdasan tinggi, penyesuaian diri; kemampuan meliputi;
inisiatif dan ambisi, meneliti kepribadian dengan penuh optimis dan memiliki
sifat-sifat situasional yaitu kemampuan berpartisipasi sosial dalam situasi
apapun.
dalam
prespektif Al-Qur’an manusia
diperintahakan Allah SWT untuk mengemban tugas sebagai khalifa (pemimpin) di
muka bumi. selaku pemimpin, manusia memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan
perikehidupan bumi terhadap penciptanya (Al-Munawar, 2009: 71). sorang pemimpin
berdasarkan isyarat Al-Qur’an harus memiliki beberapa sifat, di antaranya
sebagaimana dikutip ole Ali Muhammad taufiq (2004: 37) sebagai berikut:
1.
Memiliki
pengetahuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaannya. (Q.S 61:1)
2.
mempunyai
keistimewaan yang lebih dibandingkan orang lain (Q.S 2:274)
3.
memahami
kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya (Q.S 14:4)
4.
mau
mendengarkan nasihat dan tidak sombong (Q.S 2:206)
5.
membangun
kesadaran akan adanya pengawasan dari Allah (Q.S 22:41)
6.
konsekuen
dalam kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu (Q.S 38:26)
7.
mempunyai
power pengaruh yang dapat memerintah dan mencegah (Q.S 22:41)
8.
bermu’amalah
dengan lembut dan kasih sayang terhadap yang dipimpinannya (Q.S 3:159)
9.
menertibkan
semua urusan dan membulatkan tekad untuk kemudian bertawakal kepada Allah (Q.S
3:159)
10. menyukai saling memaafkan antara pemimpin dan
pengikutnya (Q.S 3:159)
menelusuri Al-Qur’an dan Hadist ada
empat yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin:
1. Al-Sidiq
yaitu kebenaran dan
kesungguhan dalam bersikap, berucap serta berjuang dalam melaksanakan tugasnya.
2. Al-Amana
yaitu kepercayaan
yang menjadikan dia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya
baik dari tuhan maupun dari orang yang dipimpinnya sehingga terjadi rasa aman
dari semua pihak
3. Al-Fathona
yaitu kecerdasan yang
melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoaalan yang muncul
seketika.
4. Al-Tabliq,
yaitu menyampaikan
yang jujur dan bertanggungjawab dan penuh keterbukaan (Madjid, 1992:48)
Berdasarkan pengertian
kepemimpinan di atas, tindakan kepemimpinan di pandang sebagai fungsional,
karena pada hakekatnya dilaksanakan oleh administrator yang berada di tingkat
legislatif, bersifat menentukan bagi unsur-unsur organisasi secara keseluruhan.
Syekh Mustafa Al-Ghalayaini menjelaskan
bahwa tidaklah dikatakan pemimimpin yang sebenarnya, sehingga terpenuhi
dalam di dalamnya syarat kepemimpinan yaitu: a) berakal sehat, b) kemempuan
berbagai bidang ilmu, c) punya gagasan baik, d) berwibawa, e) tangkas dan
berani, f) berhati nurani bersih, g) pandai bergaul, h) pemurah, i) pengorbanan
yang besar bagi perjuangan umat dan j) mengajarkan ilmu yang dimiliki di tengah
tengah umat (Al-Ghalayaini, 1949:101)
Dalam perspektif yang
lebih sederhana, Morgan (1996: 156) mengemukakan 3 macam peran pemimpin yang
disebut 3A, yakni:
1.
Alightting, menyalakan semangat pekerja dengan
tujuan individunya
2.
Aligning, menggabungkan tujuan individu dengan
tujuan organisasi sehingga setiap orang menuju ke arah yang sama.
3.
Allowing, memberikan keleluasaan kepada pekerja
untuk menantang dan mengubah cara kerja mereka
Seorang pemimpin dituntut
untuk dapat mengorganisasikan lembaga maupun intitusinya. Pemimpin harus mampu
menciptakan suasana kerja yang sehat
seperti memupuk dan memelihara kesediaan bekerja sama di dalam kelompok demi
tercapainya tujuan bersama, menanamkan dan memupuk perasaan anggota masing
masing bahwa mereka termasuk dalam kelompok dapat dibentuk melalui penghargaan
terhadap usaha usahanya dan sifat yang ramah tamah.
Sukses tidaknya suatu
kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi kemapuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang,
justru yang lebih dominan dipengaruhi oleh sifat dan ciri kelompok yang
dipimpinnya, sehingga memerlukan gaya dan model kepemimpinan yang berbeda dan
beragam. Faktor-Faktor yang mempengaruhi bentuk kepemimpinan seseorang seperti
tingkat pendidikan kepala sekolah
merupakan suatu fenomena yang sangat berarti, sebab rendahnya tingkat
pendidikan berarti rendahnya penguasaan kompetensi kepemimpinanya. Gejala ini
bermuara pada peningkatan kualitas sekolah pada bidang pendidikan dan
administrasi. Selain itu, usaha kepala sekolah memimpin para bawahanya juga
akan berpengaru besar terhadap peningkatan kinerja bawahannya.
kepemimpinan bermanfaat
bagi setiap pemimpin menjalankan perannya sebagai pemimpin pendidikan yaitu
anatara lain beperan sebagai, educator,
manager, administrator, supervisior, leader, enterepreneuer, motivator,
climator, and organizer (EMASLE-CO) Usman, (2006: 246). Mukhtar Latif
(2003: 131) mengemukakan faktor penentu keberhasilan seorang pemimpin
diantaranya adalah otentik ,
kepemimpinan yaitu menciptakan situasi sehingga menyebabkan orang yang
dipimpinnya timbul kesadaranya untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh
seorang pemimpin.
Tugas pemimpin tersebut
akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus
dilaksanakannya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana
seorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai
pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. untuk
keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpin yang
profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajiban sebagai sorang
pemimpin, serta melaksanakan perannya sebagai seorang pemimpin. Disamping itu
pemimpin harus menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan bawahan merasa
aman, tentram dan memiliki suatu kebebasan dalam mengembangkan gagasanya dalam
rangka tercapainya tujuan bersama yang telah ditetapkan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepemimpinan (Leadership) adalah segala upaya yang
dilakukan seseorang (dalam hal ini pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain
dengan cara memberdayakannya, mengarahkannya untuk mewujudkan suatu tujuan
bersama.
Dalam usaha memiliki kepemimpinan yang efektif dan
berdaya guna dilakukanlah penelitian yang menghasilkan beberapa teori kepemimpinan
yaitu:
1 Teori berdasarkan watak atau sifat (Trait Theory)
2 Teori berdasarkan Perilaku (Behavior Theory)
3 Teori Kepemimpinan berdasarkan Situasi (Situational
Theory)
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang baik dalam
memimpin diri sendiri, serta memimpin (baca: melayani) keluarga, tim kerja dan
masyarakat. Paling tidak ada 15 sikap pemimpin yang disukai orang. Mulai dari
hati, pikiran, perkataan hingga tindakan seorang pemimpin yang patut diteladani
oleh setiap anggota tim, bukannya sekadar menjadi bahan diskusi atau teori.
Mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan
dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan. Berdasarkan uraian di atas, maka
teori lahirnya seorang pemimpin diantaranya sebagai berikut :
1. Teori "enetis Seorang pemimpin lahir bukan
karena melaui proses yang memerlukan waktu yang lama, tetapi dia lahir menjadi
pemimpin oleh bakat-bakatyang luar biasa sejak lahirnya. Dalam dirinya mengalir
bakat-bakat dariorang tuanya maupun nenek moyang yang juga seorang pemimpin.
Dia ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi
tertentu.Pemimpin yang lahir dari Faktor genetis, biasanya memiliki
kemampuanyang luar biasa yang nampak sejak kecil.
2. Teori Sosial Lebih menekan bahwa seorang pemimpin
dapat disiapkan, dididik, dibentuk dan tidak dilahirkan begitu saja. Pemimpin
menurut teori ini,dilahirkan melalui proses pendidikan, pelatihan, penyiapan
untuk siap menjadi pemimpin. Ada yang berpendapat bahwa setiap orang akan dapat
menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3. Teori Ekologis Bila sejak lahirnya dia telah
memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan
melalui pengalaman dan usaha pendidikan, juga sesuai dengan tuntutan ekologis
lingkungannya.
Disamping teori yang sudah lama berkembang diatas
terdapat teori-teori kepemimpinan yang mungkin sesuai perkembangan kemajuan
perilaku dan budaya serta kebutuhan hidup rakyat memunculkan teori-teori
sebagai berikut :
4. Teori Orang Kaya /Financial theory-Seseorang dapat
muncul menjadi pemimpin dengan sangat tiba-tiba karena dipilih oleh anggota
masyarakat untuk menjadi pemimpin karena mempunyai banyak uang, sehingga mampu
membeli suara anggota organisasinya dan atau masyarakat dalam suatu pemilihan.
Teori ini muncul dalam ketatanegaraan indonesia di era pemilihan.
B. Saran
Hakekatnya pemimpin yang dilahirkan dengan pemimpin
yang diciptakan tidak sama. Pemimpin yang dilahirkan tidak memerlukan butuh
pendidikan tinggi. Tidak berarti mereka anti pendidikan. Kadang mereka sudah memiliki
'pengetahuan' alamiah, sentuhan pengetahuan di luarnya hanya merupakan stimulus
saja. Ada antara mereka yang rajin membaca, juga ada yang menulis, bahkan ada
yang tidak memiliki kedua-duanya. Tetapi gagasan mereka mengalir seperti air
karena mereka mampu menggunakan seluruh inderanya. Pemimpin yang dilahirkan
memiliki idealisme yang tinggi dan kuat.
DAFTAR PUSTAKA
Kompri,
S.Pd.I., M.Pd.I, Manajemen pendidikan 1,Bandung:
Alfabeta 2015.
Rahmat
Abdul, S.Sos.I, M.Pd., Dra. Boekoesoe Lintje, M. Kes., Kepemimpinan Gaya, Tipolologi, dan praksis, Bandung: MQS Publishing
2009